Krisis Air Bersih, Warga Terpaksa Konsumsi Air Pisang

0
38
Krisis Air Bersih, Warga Terpaksa Konsumsi Air Pisang
Seorang warga di Dusun Baolelet sedang mengambil air dari batang pisang untuk dikonsumsi, Sabtu (10/8)
Maumere-SuaraSikka.com: Krisis air bersih di Kabupaten Sikka propinsi NTT makin menguatirkan. Warga masyarakat harus berupaya ekstra untuk mendapatkan air bersih guna mencukupi kebutuhan rumah tangga. Salah satu cara yang dipakai yakni model tradisionil dengan mengonsumsi air pisang.
Kondisi pilu ini seperti dialami Irene Yulita, warga Dusun Baoletet Desa iligai Kecamatan Lela, Sabtu (10/8). Perempuan separuh baya ini mengaku sudah beberapa bulan ini, setiap hari dia mengorek batang pisang untuk mendapatkan air. Air dari batang pisang itu kemudian dimasak untuk mencukupi kebutuhan minum dan masak. Jika mendapatkan cukup banyak air batang pisang, dia memanfaatkan juga untuk mencuci pakaian.
Selama ini warga masyarakat Dusun Baolelet lebih mengandalkan air tadah hujan. Jika musim hujan, warga menampung air pada bak-bak penampung. Sementara ini ketersediaan air tadah hujan semain menipis, bahkan sama sekali tidak ada, karena sudah memasuki musim kemarau.
Selain air tadah hujan, warga dusun ini sebenarnya terbantu dengan jaringan pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) milik Kabupaten Sikka. Jaringan itu dibangun 1 tahun yang lalu, dan sudah masuk hingga rumah warga. Namun saat musim kemarau, jaringan pipa ini tidak lagi dialiri air, dikarenakan debit air yang rendah dari sumber mata air.
Warga konsumsi air batang pisang di Desa Iligai, bukan baru terjadi sekarang. Beberapa waktu lalu, kondisi yang sama juga terjadi. Waktu itu Wakil Bupati Sikka Paulis Nong Susar langsung mendatangi warga masyarakat di desa itu. Dia menggelar pertemuan bersama sejumlah instansi terkait, dan kemudian mencarikan jalan keluar, hingga terjadinya pemasangan jaringan perpipaan.
Sementara itu warga lainnya, Kristianus Fransiskus, mengaku mengambil air dari Batik Wair. Setiap hari dia berjalan kaki 4 kilometer untuk mendapatkan air bersih. Namun air dari Batik Wair tidak lagi sejernih dulu dan menjadi sumber mata air. Di tempat itu ditemukan banyak warga yang sedang mencuci pakaian. Warga terpaksa mengambil air yang sudah tercemar dengan limbah cucian pakaian.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka Mohamad Daeng Bakir mengatakan pihaknya masih terus menyalurkan bantuan air bersih kepada warga masyarakat yang mengalami krisis air bersih. Dia berharap komunikasi dari para camat dan kepala desa, dengan memberikan laporan detail tentang kebutuhan air bersih.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini