Melchias Mekeng Dicekal, Dian Dado Nilai KPK Diskriminatif

0
107
Melchias Mekeng Dicekal, Dian Dado Nilai KPK Diskriminatif
Melchias Markus Mekeng
Maumere-SuaraSikka.com: Nama Melchias Markus Mekeng, anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI menjadi perbincangan hangat. Politisi asal Kabupaten Sikka itu dicekal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sikap KPK pun menjadi debatabel. Meridian Dewanta Dado, seorang praktisi hukum menilai komisi anti rasuah itu bertindak diskriminatif.
Selain dicekal, mantan Ketua Badan Anggaran DPR Ri itu pun dipanggil menjadi saksi dalam kasus suap pengurusan terminasi kontrak Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) PT Asmon Koalindo Tuhup di Kementerian ESDM.
“Sangat jelas kalau proses penegakan hukum oleh KPK bersifat diskriminatif dan tebang pilih. Perlakuan KPK terhadap Melchias Markus Mekeng mulai dari prises pencekalan sampai pemanggilannya sebagai saksi sangat mencolok perbedaannya dengan perlakuan KPK terhadap Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita,” terang Meridian Dewanta Dado di Maumere, Senin (14/10).
Dia mengatakan KPK melakukan pemanggilan Enggartiasto Lukita untuk diperiksa selaku saksi dalam kasus suap kerja sama penganngkutan pupuk  antara PT Pupuk Indonesia Logistik dan PT Humpuss Transportasi Kimia pada tanggal 1 Juli 2019, 8 Juli 2019, dan 18 Juli 2019. Namun untuk ketiga panggilan pemeriksaan tersebut, Enggartiasto Lukita tiga kali mangkir dengan dalih sedang berada di luar negeri atau sedang menjalankan tugas negara.
“KPK sama sekali tidak melakuan pencekalan untuk bepertgian ke luar negeri tehadap Enggartiasto Lukita. Padahal demi prioritas serta urgensi kepentingan percepagan pemeriksaan, seharusnya dia sudah dicekal,” kilah dia.
Dia menambahkan, Bowo Sidik Pangarso selaku terdakwa dalam kasus pupuk, dalam pemertiksaan oleh KPK, telah mengakui menerima uang berjumlah Rp 2 miliar dalam bentuk pecahan Dollar Singapura dari Enggartiasto Lukita. Uang tersebut kemudian menjadi bagian dari uang Rp 8 miliar yang dimasukkan ke dalam 400 ribu amplop untuk serangan fajar.
“Apakah hanya karena Enggartiasto Lukita berstatus sebagai Menteri Perdagangan, lalu yang bersangkutan diperlakukan begitu istimewa dibandingkan dengan perlakuan terhadap Melchias Markus Mekeng?” tanya dia.
KPK telah melakukan pencekalan terhadap Melchias Markus Mekeng untuk bepergian ke luar negeri selama 6 bulan terhitung 10 September 2019. Pencekalan itu dilakukan ketika Melchias Markus Mekeng sedang menjalankan tugas negara berdasarkan surat tugas Pimpinan DPR RI, berupa perjalanan dinas ke Bern, Swiss dalam rangka pembahasan UU Bea Meterai.
Selama menjalankan tugas negara pada tanggal 7-13 September 2019, KPK mengirim surat pemanggilan kepada Melchias Markus Mekeng secara susul-menyusul. Surat pemanggilan pertama tanggal 9 September 2019 untuk pemeriksaan tanggal 11 September 2019, yang mana menurut Meridian Dewanta Dado tenggang waktu pemanggilan dan pemeriksaan yang kurang dari 3 hari, nyata-nyata tidak memenuhi syarat kepatutan menurut KUHP.
“Staf ahli Melchias Markus Mekeng sudah menanggapi surat panggilan KPK dengan mengirim surat dan meminta untuk penjadwalan ulang pemeriksaan, namun KPK justeru melayangkan lagi surat pemanggilan kedua,” terang dia.
Surat panggilan kedua tanggal 11 September 2019 untuk pemeriksaan tanggal 16 September 2019, dan surat pemanggilan ketiga tanggal 16 September 2019 untuk pemeriksaan tanggal 19 September 2019. Padahal, kata dia, KPK sudah mengetahui bahwa Melchias Markus Mekeng masih berada di luar negeri dalam rangka tugas negara.
Dengan adanya dua model perlakuan hukum yang berbeda dan saling bertolakbelakang, Meridian Dewanta Dado menyebut bahwa KPK telah bersikap diskriminatif, semena-mena, dan tidak adil terhadap Melchias Markus Mekeng.
Hemat dia, sebelum memulai melakukan proses hukum terhadap warga masyarakat, maka KPK harus terlabih dahulu membuktikan kredibilitasnya dengan berlaku adil terhadap semua pihak, tanpa membeda-bedakan, sehingga publik atau siapa pun bisamenaruh rasa hormat dan kepatuhan kepada lembaga KPK.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini