Virus ASF Ancam Populasi Babi 

0
61
Virus ASF Ancam Populasi Babi
Wakil Bupati Sikka Romanus Woga memberikan cinderamata kepada Kepala Dinas Peternakan Propinsi NTT Danny Suhadi
Maumere-SuaraSikka.com: Virus African Swine Fever (ASF) kini sedang mengancam populasi babi di NTT. Masyarakat peternak babi atau yang menjadi pegiat bisnis dari bahan dasar babi, diminta untuk antisipasi terhadap virus yang mematikan ini.
Informasi ini disampaikan Arif Hukmi dari Ditjen Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian dan Kepala Dinas Peternakan Propinsi NTT Danny Suhadi. Keduanya berada di Maumere Kabupaten Sikka dalam rangka berbicara pada Seminar ASF di Aula Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Rabu (30/11).
ASF adalah penyakit pada babi yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian hingga 100 persen. Kondisi ini bisa mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Hingga sekarang belum ada vaksin untuk melawan virus ASF.
Virus yang berasal dari Afrika itu kini sudah masuk ke Asia. Bahkan sejak September 2019 lalu diketahui sudah berada di Negara Timor Leste. Mengingat jarak Timor Leste dan NTT yang begitu dekat, dipastikan sangat terbuka virus ASF merambah ke NTT dan membunuh 2.141.241 ekor babi di NTT, termasuk 129.236 ekor yang berada di Kabupaten Sikka.
“Jadi sekarang ini berhenti dulu membawa babi atau produk-produk yang mengandung unsur babi dari Timor Leste,” ujar Arif Hukmi.
ASF tidak berbahaya bagi manusia, dan bukan menjadi masalah kesehatan masyarakat. Tapi virus ini benar-benar mematikan bagi babi. Penyebarannya bisa melalui kontak langsung, serangga, pakaian, peralatan peternakan, kendaraan, dan pakan yang terkontaminasi.
Danny Suhadi menjelaskan bisnis babi sangat berpeluang meraih keuntungan besar, dan membantu pendapatan masyarakat. Karena itu dia mengingatkan agar para peternak babi untuk serius melawan virus ASF yang tengah mengancam pipulasi babi di NTT.
Dia mengatakan Propinsi NTT memiliki sejumlah pelabuhan udara dan pelabuhan laut yang sangat terbuka untuk menerima babi dan produk-produk babi dari Timor Leste. Sementara pengawasan di pelabuhan udara dan pelabuhan laut belum terlalu ketat. Lemahnya pengawasan, kata dia, bisa saja babi atau produk-produk babi yang sudah tervirus ASF dengan mudah masuk ke wilayah NTT.
Danny Suhadi mengingatkan untuk meningkatkan pengawasan lalulintas manusia, barang dan hewan. Jika ada dugaan ASF, dia menyarankan untuk menempuh berbagai langkah seperti melaporkan kepada petugas Kesehatan Hewan, menguburkan babi yang mati, tidak menual babi yang sakit, dan mengisolasi peralatan dan hewan yang sakit  dengan mengosongkan kandang selama 2 bulan.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini