Tempat Ritual Adat Ditutup Tanah Urukan, Masyarakat Adat “Adili” Seorang Pengusaha

0
345
Tempat Ritual Adat Ditutup Tanah Urukan, Masyarakat Adat
Puluhan masyarakat adat protes kepada Charles (baju kuning hitam, kacamata) yang menutup tempat ritual adat masyarakat setempat, Sabtu (5/9)

Maumere-SuaraSikka.com: Puluhan masyarakat adat 7 suku di Dusun Bolawolon Desa Tanaduen Kecamatan Kangae “mengadili” Charles, seorang pengusaha keturunan Tionghoa, Sabtu (5/9). Pasalnya tempat ritual adat mereka telah ditutup dengan urukan tanah.

Tempat ritual adat ini persis pada sebuah pohon asam. Letaknya dekat pantai, kurang lebih 5 meter dari tembok batas rumah Charles.

Lokasi ritual adat ini terletak pada tanah ulayat. Tempat ini sudah menjadi ruang privat dan sakral untuk ritual adat yang sudah dilakukan secara turun temurun sejak dahulu kala.

Charles membuat semacam penahan gelombang di sekitar lokasi tersebut. Antara lain dengan menimbun tanah urukan. Akibatnya, tempat ritual adat pun tertutup dengan tanah urukan.

Kepada media ini Charles beralasan membuat penahan gelombang untuk mengantisipasi terjadinya abrasi.

Dia mengaku tidak tahu jika pada tanah ulayat tersebut terdapat lokasi ritual adat. Di hadapan para tetua adat dan warga masyarakat Charles mengaku bersalah karena tidak berkoordinasi sebelumnya dengan pemerintahan desa.

Pantauan media ini, puluhan warga Tanaduen mendatangi lokasi ritual adat. Mereka melampiaskan kemarahan kepada Charles, dan meminta segera membersihkan semua urukan di atas tanah ulayat.

Charles yang tampak gugup, berupaya menghadapi situasi ini. Dia berjanji akan membuang semua tanah urukan, dan mengembalikan tempat tersebut seperti semula.

Setelah melakukan perundingan, para tetua adat dari 7 suku memberikan batas waktu satu minggu kepada Charles.

Selain menjadikan tanah ulayat itu seperti sedia kali, Charles juga dikenakan sangsi adat berupa memberi makan kepada lelehur dan masyarakat ada 7 suku.

Suasana di lokasi tampak tegang. Masyarakat adat benar-benar marah atas ulah Charles yang dianggal telah melukai nilai-nilai kearifan lokal adat setempat.

Pada kesempatan itu masyarakat adat membongkar tanah urukan di sekitar pohon asam, untuk menemukan kembali mahe yang sudah tertutup tanah urukan. Setelah mendapatkan mahe, mereka lalu menggelar ritus adat.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini