Presiden dan Mantan Presiden yang Pernah ke Kabupaten Sikka

0
1381
Presiden dan Mantan Presiden yang Pernah ke Kabupaten Sikka
Presiden Jokowi disambut hangat di Kota Maumere, Selasa (23/2)

Maumere-SuaraSikka.com: Kabupaten Sikka merupakan sebuah daerah kecil dan terpinggirkan dalam NKRI. Meski demikian sejarah mencatat kehadiran Presiden Indonesia di wilayah itu.

Soekarno, Presiden pertama Indonesia, pertama kali mendatangi Kabupaten Sikka pada tahun 1952. Ini adalah sebuah kunjungan yang boleh dibilang kebetulan.

Presiden Soekarno sedang menari gawi bersama masyarakat Ende (foto: istimewa)

Mestinya Soekarno berkunjung ke Ende, tempat yang tidak asing bagi dia setelah mengalami pembuangan Belanda di wilayah itu pada tahun 1934-1938.

Menuju Ende waktu itu, Soekarno menyinggahi Maumere Kabupaten Sikka. Proklamator ini terkagum-kagum melihat sosok Moat Noeng, seorang petani di daerah itu.

Moat Noeng dalam lembaran mata uang rupiah (foto: istimewa)

Pencetus gerakan marhaenis ini segera memerintahkan ajudannya untuk memotret Moat Noeng. Kemudian dia meminta Bank Indonesia mencetak pecahan mata uang bergambar wajah sang petani tersebut.

Setelah itu 21 tahun kemudian, Presiden Soeharto mendatangi Kabupaten Sikka. Ini untuk pertama kalinya Soeharto menyambangi Flores.

Presiden dan Ibu Tien Soeharto berbalut kain tenun Sikka (foto: istimewa)

Soeharto yang berpangkat jenderal itu sempat memicu ketegangan di tengah masyarakat Kabupaten Sikka. Peristiwa G30S/PKI masih melekat pada memori masyarakat. Pembantaian yang sadis, sebuah kisah traumatik yang menakutkan.

Soeharto datang bersama Ibu Tien. Kedua orang ini melambaikan tangan dan menyalami masyarakat yang menyambut di sepanjang jalan, disertai senyuman khas mereka.

Rasa cemas dan takut masyarakat mulai berangsur hilang. Apalagi melihat Presiden dan Ibu Negara mengenakan kain sembar tenun ikat Maumere.

Suasana benar-benar mencair ketika dari atas panggung kehormatan, Soeharto memanggil dan memperkenalkan sendiri kepada publik beberapa pejabat negara beragama Katolik yang ikut di dalam rombongannya.

Di antaranya adalah Frans Seda dan Ben Mang Reng Say, dua tokoh nasional asal Kabupaten Sikka.

Soeharto datang lagi ke Kabupaten Sikka pada 1 April 1982. Dia datang bersama Ibu Negara dalam sebuah kunjungan kerja selama 2 hari di NTT.

Di Kabupaten Sikka, Soeharto mendatangi Desa Watumilok untuk melaksanakan panen raya jagung hibrida. Warga dan pelajar tumpah ruah di sepanjang jalan sambil mengibarkan bendera merah putih berukuran kecil.

Menyambut panen raya, Presiden Soeharto menyerukan kepada rakyat NTT untuk terus membudidayakan tanaman jagung, sesuai program Gubenur Ben Mboi. Kepala Negara mengatakan bahwa intensifikasi mutlak dilakukan sebelum mengadakan ektensifikasi.

Presiden juga menekankan perlunya dilakukan pembibitan terhadap bibit unggul.

Soeharto menegaskan pembangunan yang dilakukan selama Pelita I sampai Pelita III adalah pembangunan ekonomi yang terutama menekankan pada sektor pertanian.

Karena itu, Presiden mengharapkan para petani di Kabupaten Sikka mendukung dan menjadi anggota KUD yang merupakan salah satu unit ekonomi, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Sebelas tahun kemudian, 23 Desember 1992, Soeharto bersama Ibu Tien kembali mendatangi Maumere Kabupaten Sikka. Kali ini terkait bencana nasional gempa dan tzunami yang melanda daerah itu pada 12 Desember 1992.

Bersama Ibu Tien, Presiden mengunjungi lokasi bencana alam di Maumere. Dia mendatangi para korban bencana alam dan menemui para pengungsi.

Soeharto mengemukakan agar Pemprop NTT mengutamakan pembangunan kembali perumahan, sekolah, puskesmas dan fasilitas umum di wilayah yang mengalami bencana.

Kegiatan pembangunan perumahan dan fasilitas umum, menurut Presiden, perlu pula melibatkan anggota masyarakat secara langsung agar mereka tidak terlampau berlarut dalam kesedihan.

Kegiatan gotong royong merupakan salah satu budaya yang dapat dikembangkan untuk membantu pembangunan perumahan masyarakat agar pekerjaan dapat segera terselesaikan.

Setelah Soeharto lengser, praktis tidak ada lagi Presiden yang menginjakkan kaki di Kabupaten Sikka. Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY tidak mencatatkan sejarah pada negeri Nyiur Melambai.

Presiden Jokowi menuju Bendungan Napung Gete

Adalah Jokowi, Presiden Indonesia yang menorehkan lagi sejarah itu. Presiden 2 periode itu menyambangi Kabupaten Sikka pada 23 Pebruari 2021, setelah dua kali rencana tertunda.

Jokowi meresmikan Bendungan Napung Gete di Desa Ilinmedo Kecamatan Waiblama, sekitar 50 kilometer dari Kota Maumere. Menunggang Mercedez Benz, dia menempuh perjalanan darat dari Bandara Frans Seda Maumere hingga ke lokasi bendungan.

Bendungan ini merupakan program strategis nasional. Seluruh biaya pengerjaan menghabiskan dana Rp 849 miliar lebih.

Entahlah setelah Presiden Jokowi, presiden siapa lagi yang akan datang ke Kabupaten Sikka. Atau mungkin saja, sekiranya Presiden Jokowi masih menaruh perhatian besar kepada daerah ini, mantan Gubernur DKI itu bisa saja datang lagi ke Kabupaten Sikka.

Megawati Soekarnoputri

Megawati Soekarnoputri pernah mendatangi Kabupaten Sikka, tapi tidak dalam kapasitas sebagai Presiden. Demikian pun Gus Dur, berada di Maumere tidak dalam posisi sebagai orang nomor satu di Indonesia.

Sebagai Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri datang ke Maumere untuk urusan internal partai. Dia disambut ribuan kader banteng bermoncong putih dan simpatisan partai pemenang Pemilu 1999 itu.

Tampil sebagai simbol perlawanan terhadap rezim Orde Baru, Megawati dielu-elukan lebih dari seorang presiden. Dia berpidato sekitar 1 jam, membakar semangat kader dan simpatisan yang berkumpul menyemut di Aula Santa Theresia Avila di Jalan Ahmad Yani.

Megawati datang lagi ke Maumere, bertepatan dengan pengresmian Patung Bunda Maria Segala Bangsa di Nilo Kecamatan Nita pada 31 Mei 2005. Kala itu dia baru saja berhenti sebagai Presiden Indonesia.

Patung Bunda Maria setinggi 25 meter, berdiri kokoh di Bukit Keli di ketinggian sekitar 1.600 meter dari permukaan laut. Simbol ini diharapkan dapat memberikan kedamaian bagi umatnya.

Ribuan umat Katolik di Kabupaten Sikka hadir menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Megawati menyampaikan pidato yang simpatik dan menggugah toleransi keberagaman di negara demokrasi ini.

Putri Bung Karno itu mengaku merasa terhormat karena walaupun berbeda agama, tetapi diundang menghadiri peresmian Patung Bunda Maria sekaligus memberikan pidato.

“Saya dari kalangan Islam. Saya disuruh pidato pada suatu acara yang secara ritual saya mengetahui, tetapi tidak secara mendalam. Saya datang ke sini, dan semoga pembangunan ini dapat segera berhasil,” kata Megawati kala itu.

Abdurahman Wahid biasa disapa Gus Dur

Gus Dur mendatangi Kabupaten Sikka pada tahun 2005. Dia melakukan kunjungan ke Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero, sekolah pendidikan calon Imam yang terkemuka dan disegani di Indonesia.

Dalam kunjungan tersebut Gus Dur bertemu dan berdialog dengan para calon Imam yang kelak akan ikut andil merawat kebhinekaan di republik ini.

Gus Dur percaya membangun toleransi di Indonesia yang penuh keberagaman salah satunya dengan jalan dialog yang tulus. Dia meyakini toleransi tidak akan terwujud apabila kecurigaan selalu ada di antara umat beragama.

Untuk itu, di mana pun berada, Gus Dur selalu menyuarakan membangun kepercayaan dan dialog tanpa henti.*** (eny, dari berbagai sumber)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini