Menelusuri Keturunan RA Kartini, Cicitnya Hidup Seadanya

0
277
Menelusuri Keturunan RA Kartini, Cicitnya Hidup Seadanya
RA Kartini ( foto: istinewa)

Maumere-SuaraSikka.com: Raden Ajeng Kartini atau lebih dikenal RA Kartini merupakan Pahlawan Nasional Indonesia. RA Kartini menjadi pelopor kebangkitan perempuan Pribumi-Nusantara, di era penjajahan Belanda. Sebagai bentuk penghormatan, hari kelahirannya 21 April diperingati sebagai Hari Kartini.

Dilansir dari merdeka.com, seperti diketahui, Kartini berasal dari kalangan priyayi. Darah bangsawan Jawa telah mengalir dari sang kakek yang merupakan tokoh agama. Dia juga masih ada keturunan dari Hamengkubuwana VI dan Istana Kerajaan Majapahit.

Meski begitu, keturunan Kartini saat ini memilih untuk hidup apa adanya. Hal itu didasari atas perintah sang ayah yang menekankan untuk hidup sederhana dan tidak mengklaim status atau hak sebagai keturunan dari pahlawan nasional.

Mereka tidak menggunakan keistimewaan gelar tersebut untuk menguasai atau sekedar ingin terkenal. Beredar kabar, kelima cicit Kartini kini memilih jadi tukang ojek dan berbaur dengan masyarakat.

RA Kartini bersama suaminya Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat (foto: istimewa)

RA Kartini dijodohkan dengan sesama keluarga bangsawan. Tanggal 12 Nopember 1903, dia dipinang Bupati Rembang. Kartini menjadi istri keempat dari K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat.

Kendati demikian, sang suami memahami keinginan Kartini dan memberinya kebebasan. Sehingga dipersilakan untuk mendirikan sekolah wanita yang saat ini menjadi Gedung Pramuka.

Soesalit Djojoadhiningrat, anak laki-laki tunggal RA Kartini (foto: istimewa)

Dari pernikahan tersebut, Kartini dikaruniai seorang putra bernama Soesalit Djojoadhiningrat pada 13 September 1904. Hanya berselang empat hari sejak melahirkan, Kartini harus berpulang kepada Sang Pencipta.

Anak laki-laki tunggal Kartini diberi nama Soesalit karena sejak kecil sudah tidak merasakan kehangatan ibunya. Dalam bahasa Jawa, Soesalit akronim dari “susah naliko alit” atau susah di waktu kecil.

Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat merupakan tentara anggota PETA (Pembela Tanah Air), di era penjajahan Jepang. Di dunia militer, Soesalit sudah mencapai pangkat Mayor Jenderal. Dia dikaruniai seorang putra bernama R.M. Boedhy Setia Soesalit.

Raden Boedhy Setia Soesalit sebagai putra tunggal, sekaligus cucu kandung satu-satunya dari RA Kartini. Kemudian Boedhy menikah dengan wanita berdarah Jawa, yakni Sri Bijantini.

Meski berasal dari keturunan priyayi dan pahlawan tanah air, Boedhy tidak ingin memanfaatkan hal itu. Bersama istri dan kelima anaknya, dia memilih untuk hidup sederhana dan menutup diri.

Kabar Boedhy sekeluarga bagai ditelan bumi. Bahkan keturunan Kartini memilih diam dari pada mengaku. Dikabarkan cucu tunggal sang pahlawan telah meninggal pada usia 57 tahun.

Dilansir dari artikel Diskominfo Jateng, kelima cicit RA Kartini hidup prihatin, di antaranya Kartini, Kartono, Rukmini, Samimum, dan Rachmat

Dalam rangka peringatan Hari Lahir ke-139 RA Kartini Tingkat Provinsi Jawa Tengah, Bupati Jepara ingin memberi bantuan pada keturunan RA Kartini itu.

“Ketika Anies Baswedan dan beberapa menteri berkunjung ke Jepara, juga pernah berjanji akan memberikan beasiswa bagi keturunan RA Kartini. Tetapi sekarang menterinya malah sudah ganti. Kepada Menteri PUPR saya juga pernah menyampaikan permintaan bantuan rumah untuk cucu RA Kartini,” kata Bupati Jepara Ahmad Marzuki, di Pendapa Kabupaten Jepara, Sabtu (21/4/2018).

Cicit yang pertama, dikabarkan kini sudah hidup dengan ekonomi lumayan. Sedangkan keempat adiknya masih membutuhkan bantuan. Kedua adik laki-lakinya memilih untuk bekerja sebagai tukang ojek.

“Hanya yang pertama yang lumayan, sedangkan Kartono mengojek, demikian pula Samimun juga jadi tukang ojek. Sementara Rukmini telah ditinggal suaminya yang bunuh diri akibat terlilit ekonomi, dan Racmat yang menderita autis sudah meninggal,” terang Ahmad Marzuki.

Lantas sampai saat ini, belum ada lagi kabar terbaru mengenai kondisi kelima cicit RA Kartini. Bahkan mirisnya lagi Sekolah Kartini yang berada di Kota Rembang, mulai terlupakan.*** (*/eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini