Gengsi Chelsea di Tangan Thuchel

0
108
Gengsi Chelsea di Tangan Thuchel
Pemain Chelsea merayakan usai menekuk Manchester City, Minggu (30/5) dinihari WIB

Maumere-SuaraSikka.com: Gelandang Chelsea Mason Mount menyodorkan bola ke area pinalti. Kai Haverts menyambutnya dengan gagah. Si kulit bundar berhasil dikuasainya.

Penjaga gawang Manchester City Ederson keluar kandang, berupaya menghalau ancaman. Kai Haverts lolos dan segera cepat akselerasi solo run.

Gawang City tampak tidak terjaga lagi. Kai Haverts, pemain timnas Jerman itu dengan gampang melesakkan bola.

Kai Havertz, mencetak gol ke gawang Manchester City

Menit ke-42 saat itu. Ribuan pendukung The Blues menyambut histeris dari Estadio do
Dragao, Porto, Portugal, Minggu (30/5) dini hari WIB.

Itulah satu-satunya gol yang tercipta pada laga Final Liga Champion. Chelsea pun mengangkat Si Kuping Besar untuk kali kedua.

Laga penuh gengsi dua klub raksasa Inggris ini berlangsung panas. City langsung tampil menekan sejak menit awal. Mereka tidak memberikan ruang buat Chelsea menguasai setengah lapangan.

Namun, Chelsea memperoleh peluang emas dua kali pada menit ke-10 dan ke-14. Sayang, tak ada satu pun kesempatan berbuah gol.

City baru bisa memperoleh peluang terbaik pada menit ke-27. Beruntung buat Chelsea, bek Antonio Rudiger sanggup mencegah bola masuk ke gawang Edouard Mendy.

City kembali tampil dominan pada awal babak kedua. Mereka menjaga Chelsea terkurung di areanya sendiri. Peluang langsung didapat Foden yang beralih menusuk dari kanan. Umpan silang yang matang ke tiang dekat, tetapi tidak ada rekan yang menyambut si kulit bundar.

Sepuluh menit babak kedua dimulai, jenderal lapangan City Kevin de Bruyne terlibat tabrakan dengan bek Chelsea Antonio Rudiger.

Apes buat City karena sang playmaker harus ditarik keluar akibat cedera. Sementara Antonio Rudiger diganjar kartu kuning.

Tak lama kemudian, setelah Gabriel Jesus masuk menggantikan De Bruyne, para pemain City melakukan protes menyusul klaim handsball atas Reece James. VAR bertindak, namun keputusan tidak ada pinalti.

Chelsea menyerang dengan cepat. Serangan balik melalui Havertz melewati lini tengah. Pemain belakang City tidak bisa menghalaunya. Dia mengirimkan bola ke Pulisic, dan sebuah tembakan keras, namun masih menyamping di gawang Ederson.

Kedua tim lalu bertukar peluang demi peluang. City beberapa kali mengancam gawang Chelsea, namun kedisipinan lini pertahanan The Blues masih ampuh menahan gempuran Sterling dan kawan-kawan.

Satu gol Kai Havertz sudah cukup bagi Chelsea untuk mengulangi sejarah musim 2011-2012. Saat itu Chelsea membungkam Bayern Muenchen 5-4 lewat drama adu pinalti.

Euforia pemain Chelsea usai Kai Havertz mencetak gol

Deja Vu
Banyak media menyebut prestasi The Blues musim ini seperti rajutan cerita sukses 9 tahun lalu. Deja Vu, begitu istilah yang digambarkan terkait suatu peristiwa atau pengalaman saat ini yang sudah pernah dialami pada masa lalu.

Terdapat lima faktor yang membuat Chelsea seperti mengalami deja vu.

Pertama, Chelsea menjadi juara Liga Champions usai memecat pelatih pada pertengahan musim.

Pada musim 2011-2012, Chelsea memecat Andres Villas-Boas dan menunjuk Roberto Di Matteo menjadi pengganti dengan jabatan pelatih sementara.

Roberto Di Matteo yang mulai bertugas sejak Maret 2012 kemudian berhasil mengantar Chelsea meraih gelar Liga Champions pertamanya.

Musim ini, Chelsea menunjuk Thomas Tuchel untuk menggantikan Frank Lampard yang dipecat pada Desember 2020.

Meski baru bertugas 30 pertandingan, Thomas Tuchel sukses mengantar Chelsea mengangkat tropi Liga Champions musim ini.

Kedua, Chelsea menjadi juara Liga Champions dengan menyingkirkan tim asal Portugal pada babak perempat final.

Ketika menjadi juara Liga Champions 2011-2012, Chelsea menyingkirkan Benfica pada babak perempat final dengan total agregat 3-1.

Cerita yang sama terulang musim ini. Namun, tim asal Portugal yang menjadi korban Chelsea pada perempat final Liga Champions musim ini adalah FC Porto.

Chelsea lolos ke semifinal seusai menyingkirkan FC Porto dengan total agregat 2-1.

Ketiga, Chelsea menjadi juara Liga Champions dengan menyingkirkan tim asal Spanyol pada babak semifinal.

Pada musim 2011-2012, Chelsea lolos ke partai final Liga Champions setelah mengalahkan Barcelona dengan total agregat 3-2.

Sembilan tahun berselang, Chelsea kembali mengalahkan tim asal Spanyol untuk meraih tiket final Liga Champions.

Chelsea asuhan Thomas Tuchel lolos ke final Liga Champions musim ini seusai menumbangkan rival abadi Barcelona, Real Madrid, dengan total agregat 3-1.

Keempat, Chelsea mengangkat tropi Liga Champions setelah City menjadi kampiun Liga Inggris.

Perbedaan dari fakta keempat kali ini adalah posisi Chelsea di klasemen akhir Liga Inggris.

Pada musim 2011-2012, Chelsea finis di urutan keenam klasemen akhir Liga Inggris.

Beruntung bagi Chelsea karena berhasil menjadi juara Liga Champions pada musim tersebut. Jika tidak, Chelsea akan tampil di Liga Europa pada musim selanjutnya.

Musim ini, Chelsea menempati peringkat keempat klasemen Liga Inggris atau batas akhir zona Liga Champions.

Kelima, Chelsea menjadi juara Liga Champions ketika Antonio Conte berhasil mengangkat tropi Liga Italia.

Pada musim 2011-2012, Chelsea mengangkat tropi Si Kuping Besar setelah Antonio Conte membantu Juventus menjadi juara Liga Italia.

Musim ini, Conte yang juga pernah melatih Chelsea sukses mengantar Inter Milan menjadi juara Liga Italia.

Aksi menawan Kai Havertz saat.lolos.dari hadangan penjaga gawang Manchester City

Havertz
Tidak hanya membawa Chelsea ke podium Liga Champions musim ini, gol Havertz membuat sang pemain mengukir rekor di kompetisi antarklub elite Benua Biru.

Mengutip statistik Opta, Havertz menjadi pemain Jerman pertama yang mencetak gol pada final Liga Champions setelah terakhir kali Ilkay Guendogan melakukannya pada 2013.

Selain itu, pemain tim nasional Jerman berusia 21 tahun 352 hari itu juga merupakan pemain termuda Jerman yang mencetak gol pada partai final Liga Champions setelah Lars Ricken, usia 20 tahun 322 hari, dalam laga Borussia Dortmund vs Juventus pada 1997.

Gol semata wayang Havertz pada final Liga Champions kontra City pun menjadi pembuktian eks Bayer Leverkusen tersebut yang sempat mendapatkan sorotan tajam pada awal musim.

Havertz diboyong Chelsea dari Bayer Leverkusen pada bursa transfer musim panas tahun lalu dengan harga 80 juta euro atau sekitar Rp 1,3 triliun.

Harga tersebut menjadikan Kai Havertz sebagai pembelian termahal dalam sejarah Chelsea.

N’Golo Kante, man of the match Final Liga Champions

Kante
Salah satu kunci keberhasilan Chelsea adalah penampilan solid gelandang N’Golo Kante di lini tengah.

UEFA secara khusus menyoroti keberhasilan Kante mematikan pergerakan kapten City, Kevin De Bruyne, sejak babak pertama hingga pertengahan babak kedua.

Kante memberi pengaruh besar di lini tengah terutama melalui pergerakan tanpa bola.

“Kante juga membentuk kemitraan yang sangat baik dengan Jorginho,” ujar pengamat teknis UEFA, John Peacock.

Dilihat dari data statistik, penampilan Kante terutama ketika bertahan memang sangat solid.

Dikutip dari situs WhoScored, Kante tercatat melakukan tiga tekel suksess, dua intersep, dan dua sapuan atau clearances.

Kante juga berhasil memenangi total tujuh duel area melawan pemain City dengan rincian lima saat bertahan dan dua lainnya ketika Chelsea menyerang.

Ketika Chelsea menyerang, Kante tercatat melepaskan satu umpan kunci.

Adapun persentase akurasi umpan Kante menyentuh 85 persen dengan rincian 29 akurat dari total 34 umpan.

Kante kemudian dinobatkan UEFA menjadi pemain terbaik atau man of the match laga final Liga Champions musim ini.

Ini adalah kali ketiga Kante dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan Liga Champions musim ini.

Dua gelar pemain terbaik sebelumnya didapatkan Kante pada babak semifinal pertama dan kedua melawan Real Madrid.

Dikutip dari situs UEFA, Kante kini menjadi pemain asal Perancis ketiga yang dinobatkan sebagai man of the match final Liga Champions pada era 2000-an.

Kante mengikuti jejak Kingsley Coman yang menjadi man of the match final Liga Champions musim lalu sesuai mengantar Bayern Muenchen mengalahkan Paris Saint-Germain 1-0.

Adapun pemain asal Perancis pertama pada era 2000-an yang dinobatkan menjadi man of the match final Liga Champions adalah Zinedine Zidane.

Zidane dinobatkan menajdi man of the match final Liga Champions 2002 seusai mencetak gol penentu kemenangan 2-1 Real Madrid atas Bayer Leverkusen.

Pelatih Chelsea Thomas Tuchel mengecup Si Kuping Besar

Thomas Tuchel
Sukses The Blues menjadi kampiun Liga Champions 2020-2021 tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Sebab, sempat ada turbulensi di tubuh Chelsea, ketika pelatih Frank Lampard dipecat pada Januari 2021 dan digantikan Thomas Tuchel.

Luar biasanya, Thomas Tuchel berhasil mengubah Chelsea dari tim biasa saja menjadi tim superior.

Tercatat ada empat prestasi Thomas Tuchel bersama Chelsea.

Ketika Thomas Tuchel datang, Chelsea menempati posisi sembilan klasemen Liga Inggris. Namun, berkat tangan dingin Thomas Tuchel, Chelsea finis keempat dan menyegel satu tempat di Liga Champion musim depan.

Sukses lain, yakni pelatih berkebangsaan Jerman ini membawa Chelsea lolos ke final Piala FA 2020-2021. Chelsea lolos ke final setelah di semifinal menumbangkan Manchester City 1-0. Sayangnya, di partai puncak Chelsea kalah 0-1 dari Leicester City.

Ekspresi Thomas Tuchel ketika Kai Havertz mencetak gol ke gawang Manchester City

Juara Liga Champions merupakan pencapaian tertinggi Thomas Tuchel bersama The Blues. Sejak tiba di Stamford Bridge pada Januari 2021, Thomas Tuchel memang bertekad membawa The Blues juara Liga Champions.

Hal itu karena musim lalu Thimas Tuchel “hampir” menjadi juara. Sebab, klub asuhannya saat itu, PSG, dikalahkan Bayern Munich 0-1 di final Liga Champions 2019-2020.

Satu lagi, gelar juara otomatis membuat PSG menyesal memecat Thomas Tuchel pada awal Januari 2021. Sebab, di saat Chelsea berpesta, langkah PSG di Liga Champions 2020-2021 terhenti di babak semifinal.

Dipercaya, kontrak jangka panjang akan disodorkan manajemen Chelsea kepada Thomas Tuchel. Saat ini, Thomas Tuchel dikontrak Chelsea hingga 30 Juni 2022.

Semenjak Tuchel datang, kepercayaan diri Kai Havertz meningkat. Di bawah Tuchel, Kai Havertz biasa pentas sebagai winger kanan dan penyerang palsu.

Puncak performa Kai Havertz tersaji dini hari tadi. Dia mencetak gol tunggal kemenangan Chelsea atas City. Uniknya, gol tersebut merupakan yang pertama dikemas Kai Havertz di Liga Champions.*** (*/eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini