Tidak Ada Alat Berat, Warga 3 Desa Keroyok Bersihkan Ruas Jalan Wolosaga-Wolowajo

0
430
Tidak Ada Alat Berat, Warga 3 Desa Keroyok Bersihkan Ruas Jalan Wolosaga-Wolowajo
Warga sedang gotong-royong membersihkan ruas jalan dari material longsor, Jumat (17/9) (foto: istimewa)

Maumere-SuaraSikka.com: Karena tidak ada alat berat, warga 3 desa di Kecamatan Tanawawo Kabupaten Sikka terpaksa keroyok membersihkan ruas jalan Wolosaga-Wolowajo.

Ruas jalan ini mengalami kerusakan menyusul bencana yang terjadi pada 8-9 Pebruari 2021 lalu. Terdapat sejumlah titik yang mengalami longsor. Akibatnya material longsoran menutupi badan jalan.

Warga yang kerja gotong-royong ini berasal dari Desa Tuwa, Wolorega, dan Poma. Mereka menggunakan alat-alat sederhana.

Kerja gotong-royong warga 3 desa membersihkan material longsoran

Gotong-royong pembersiham ruas jalan merupakan kesepakatan warga 3 desa itu. Pasalnya ruas jalan ini meskipun berada dekat dengan perbatasan Desa Watineso Kabupaten Ende, tapi aksesnya menghubungi tiga desa itu.

Sesuai kesepakatan, jadwal pembersihan dilaksanakan dua kali dalam seminggu. Warha sepakat menentukan pelaksanaan pembersihan pada hari Selasa dan Jumat.

Pohon-pohon yang tumbang akibat longsoran, menutup badan jalan

“Hari ini sudah hari kesembilan. Kami gunakan alat sederhana secukupnya,” ujar seorang warga Desa Tuwa.

Menurut dia, pembersihan jalan ini bisa lebih cepat jika dibantu dengan alat berat. Masalahnya, mereka tidak punya koneksi untuk mendatangkan alat berat ke tempat itu.

Ruas jalan ini, cerita dia, pernah juga bermasalah pada tahun 2019 akibat bencana longsor. Kala itu Bupati Sikka meminta Dinas PUPR setempat menurunkan alat berat. Praktis, pekerjaannya pun hanya beberapa hari saja.

“Semoga kali ini Bupati bisa bantu kami datangkan alat berat, biar bisa lebih cepat, sehingga masyarakat sudah bisa memanfaatkan akses transportasi melalui ruas jalan ini,” ujar dia.

Kepala Desa Tuwa Fernandes Y Wula

Kepala Desa Tuwa Fernandes Y Wula yang dihubungi media ini siang tadi, mengaku sedang berada di lokasi pembersihan.

Dia ikut memantau kegiatan gotong-royong warga 3 desa. Terkadang dia juga ikut terlibat dalam aksi gotong-royong itu.

“Tanggung jawab sebagai pemimpin, jadi saya selalu hadir bersama warga saat pembersihan material,” ujar Fernandes Y Wula.

Dia mengaku bangga dengan warga 3 desa yang meskipun harus kerja secara manual, tapi tetap bersemangat.

Hanya saja, kata dia, kerja secara manual dengan jadwal 2 kali dalam seminggu, membutuhkan waktu yang lama dan panjang.
Dan tentu saja itu akan menghambat percepatan akses perekonomian dan kebutuhan warga masyarakat setempat.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini