
Maumere-SuaraSikka.com: Ericos Emanuel Rede, dipastikan menjadi Wakil Bupati Ende Periode 2019-2024, Kamis (11/11) di DPRD Ende. Jejak politik ini menoreh cerita panjang tentang kisah mantan loper koran itu.
Ketua Partai Nasdem Ende itu mendapat dukungan 23 suara. Sementara pesaingnya Dominikus Mere yang diusung Fraksi Partai Golkar hanya memperoleh dukungan 6 suara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sidang Istimewa dengan agenda tunggal Pemilihan Wakil Bupati Sikka, dipimpin Ketua DPRD Ende Fransiskus Taso. Tampak hadir juga Bupati Ende Djafar Achmad, bersama jajaran Forkopimda Ende.
Pemilihan Wakil Bupati Ende berlangsung dengan mekanisme voting tertutup. Masing-masing 29 anggota DPRD Ende menggunakan hak pilih.
Setelah proses penghitungan suara, Erik Rede yang belum lama ini mengundurkan diri dari kursi Wakil Ketua DPRD Ende, dipastikan unggul telak.
Hasil ini langsung disambut suka cita pendukung, anggota keluarga, termasuk partai-partai politik pendukung.
Respek Bupati
Bupati Ende Djafar Achmad yang menyaksikan langsung proses pemilihan, menyampaikan respek atas terpilihnya Erik Rede sebagai Wabup Ende.
“Hampir 2 tahun Ende tidak punya Wakil Bupati. Hari ini DPRD Ende sudah ada orangnya,” ujar Bupati Ende.
Hadirnya Wabup Ende definitif, kata dia, dengan sendiri sudah bisa membantu dirinya sebagai Bupati Ende, dalam menjalankan roda pemerintahan.
Bupati Ende menyampaikan selamat kepada Wabup Ende Terpilih. Dia mengaku siap bekerjasama dalam penyelenggaraan pemerintahan di masa sekarang maupun di masa akan datang.
Dia juga menyampaikan apresiasi kepada DPRD Ende yang telah bekerja keras melaksanakan seluruh proses hingga terpilihnya Wabup Ende.
Loper Koran
Sebelum didapuk menjadi Wabup Ende, Erik Rede tercatat sebagai Wakil Ketua DPRD Ende dari Fraksi Partai Nasdem. Dia rela meninggalkan kursi pimpinan untuk menatap langkah ke jalur eksekutif.
Karir politik Erik Rede penuh lika-liku. Jauh sebelum bergabung ke Partai Nasdem, dia pernah menjadi wakil rakyat di daerah itu untuk periode 2009-2014 melalui Partai Kasih Demokrasi Indonesia (PKDI).
Sebelum terjun ke dunia politik, Erik Rede ternyata pernah menjadi loper koran. Dia menekuni pekerjaan itu sejak masih duduk pada bangku SMA di Kota Kupang.
Kala itu Erik Rede mengalami problem finansial. Dalam kondisi krisis keuangan, Erik Rede tertarik dengan tetangganya yang waktu itu beraktifitas sebagai loper koran.
Mulailah Erik Rede bertualang menjajakan koran. Tapak-tapak kakinya menyusuri Kota Kupang, menemui pelanggan di rumah dan kantor pemerintahan, termasuk menjual eceran.
Kerja sebagai loper koran memang melelahkan dan menguras waktu. Tapi di balik itu, loper koran punya kenikmatan tersendiri, apalagi hasilnya bisa menggairahkan. Setiap bulan Erik Rede bisa memperoleh kisaran Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Sebuah nilai yang fantastis waktu itu.
Selama 9 tahun dia bergelut dengan dunia loper koran. Keasyikannya dengan profesi ini tidak main-main. Dari hasil kerja keras dan konsistensinya dia berhasil membeli sebuah mobil.
Loper koran ini mulai naik daun. Dia tidak lagi jalan kaki bergulat dengan panas dan hujan. Erik Rede keliling Kupang menjajakan koran dengan mobil hasil kerja kerasnya.
Setelah tamat SMA, petarung ini melanjutkan nasib akademisnya ke bangku kuliah. Loper koran masih dia geluti hingga menyelesaikan studinya.
Setelah kembali ke Ende, pemuda asal Detusoko ini mulai menggagas langkah politiknya. Dia bergabung dengan PKDI besutan Ani Plate, istri Johny G Plate.
Alhasil, dia lolos pada Pemilu 2009, dan menjadi satu-satunya wakil dari PKDI yang menembus kursi legislatif.
Karir politiknya terus melejit, dan berhasil masuk lagi ke lembaga legislatif untuk periode kedua melalui Pemilu 2014, dan periode ketiga melalui Pemilu 2019.*** (*/eny)















