Sebagai contoh, pariwisata alam yakni Pulau Komodo, hanya ada di NTT. Pariwisata budaya dengan tari-tarian, seperti tari caci ada di Manggarai. Kemudian, pariwisata religi berupa Semana Santa di Larantuka adalah objek wisata religi yang terkenal hingga mancanegara. Lalu, dari segi sejarah, Ansy Lema menyebutkan bahwa Ende adalah tempat perenungan Bung Karno yang melahirkan Pancasila.
“Kalau bicara tentang pariwisata NTT, kita ini punya objek pariwisata yang ikonik, unik dan khas. Mulai dari pariwisata alam, budaya, religi hingga sejarah. Untuk itu, semangat pembangunan pariwisata kita adalah semangat keberlanjutan, yang kata kuncinya adalah konservasi. Jadi, tidak hanya community based tourism tetapi community based ecotourism,” jelas Ansy Lema.
Di sisi lain, dalam pandangan Ansy Lema, pariwisata di NTT memiliki tiga paket pembagian. Pertama, paket utama atau main course yaitu Labuan Bajo. Kedua, paket komplementer yaitu Sumba, Rote, Alor, dan Kelimutu. Ketiga, paket penutup atau dessert, yaitu Semana Santa, Bajawa, dan Maumere.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Paket-paket pembagian ini menjadi lokus dan fokus terhadap pembagian potensi-potensi pariwisata di NTT. Sehingga, pengembangan pariwisata di tanah Flobamora ini dapat mengacu pada paket pembagian di atas.
Selanjutnya, Politisi Alumni Pascasarjana Universitas Indonesia ini menjelaskan berbagai tantangan yang menjadi penghambat berkembangnya sektor pariwisata di NTT. Dia menyebut hambatan pada sektor pariwisata datang dari berbagai segmen, baik itu kualitas Sumber Daya Manusia, infrastruktur, promosi hingga tata kelola.
Misalnya, bagaimana keramahan para pelaku pariwisata harus bisa ditingkatkan. Produk souvenir cinderamata yang dihasilkan para UMKM NTT juga harus memiliki standar dan kualitas yang baik.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












