Indah Pareira Mandalangi, juri tamu pada Lomba Paket Pelang, mengapresiasi Panitia Pelaksana HUT ke-78 Yapenthom yang menginisiasi Lomba Paket Pelang. Menurut dia, perlombaan semacam ini belum pernah digelar di tingkat sekolah. Meski dilaksanakan secara sederhana dan terbatas, PNS pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka itu salut atas spirit Yapenthom dalam menjaga warisan budaya.

“Profisiat kepada Yapenthom. Biasanya lomba seperti ini dilakukan oleh ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita, jarang dilakukan di sekolah. Yah, anak-anak sekolah perlu tahu proses memakai baju dan proses lenggeng. Mencintai busana tradisi adalah menunjukkan kebesaran diri dan bangga akan identitas,” ujar Indah Pareira Mandalangi.
Seksi Perlombaam memberikan waktu 45 menit kepada para peserta untuk keseluruhan proses persiapan hingga selesai. Mengingat waktu yang sangat terbatas, peserta sudah langsung tampil dengan mengenakan busana adat. Setelah itu penata rias mulai merias, termasuk mengenakan unsur-unsur dan identitas dalam busana adat Sikka Krowe.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

“Keserasian berbusana antara pria dan wanita, originalitas dan keaslian keaslian berbusana, rias dan kelengkapan aksesoris, menjadi hal yang paling penting dalam penilaian,” ujar Indah Pareira Mandalangi.
Setelah proses tata rias selesai, tampak sekali keanggunan para peserta pelajar yang terlihat sebagai pria dan wanita dewasa dalam balutan busana adat. Mereka kemudian berlenggak-lenggok memamerkan keseluruhan proses yang dijalani dalam lomba tersebut.
Juri Lomba Paket Pelang kemudian menetapkan pasangan Alexandro Calvaro Lado dan Yosefa Aura Cindi Qinaya dari SMPK Yapenthom 1 Maumere sebagai pemenang pertama, disusul Paulus Salah dan Theresia Yustika Bena dari SMKS Yohanes 23, dan Fransiskus Noven Herice dan Yosefina Afriani Fransiska dari SMPK Santo Yohanes Nele.*** (eny)
Halaman : 1 2


Ikuti Kami
Subscribe












