
Maumere-SuaraSikka.com: Tim Gabungan yang menggelar operasi yustisi, Selasa (6/7) malam, dikabarkan menggebuk seorang pelanggar protokoler kesehatan hingga pelipis terobek. Namun polisi memastikan tidak ada pemukulan.
Korban adalah seorang warga Lingkar Luar bernama Emanuel Manda. Dia terpaksa dilarikan ke RSUD TC Hillers untuk mendapatkan perawatan kesehatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Usai mendapat tindakan medis, Emanuel Manda bersama istri langsung menuju Mapolres Sikka. Mereka berencana melaporkan tindakan penganiayaan yang dilakukan Tim Gabungan.
Ditemui di Mapolres Sikka, Selasa (6/7) malam, Emanuel Manda mengaku dia dianiaya para personil yang terlibat dalam Tim Gabungan. Sebelum dianiaya, seorang yang diduga sebagai pimpinan Tim Gabungan sempat dengan kasar menarik krak baju korban.
“Banyak sekali yang pukul, saya tidak lihat jelas wajah mereka,” jelas Emanuel Manda.
Emanuel Manda mengatakan saat itu dia tidak mengenakan masker, karena baru saja tiba di rumah. Waktu itu Emanuel Manda hendak menutup kios miliknya.
Kasat Sabhara Polres Sikka Iptu Mikael Donis yang dihubungi di Polres Sikka, Selasa (6/7) malam memastikan memimpin operasi yustisi yang dilaksanakan Tim Gabungan, terdiri dari Polri, TNI, SatPol PP KBPP dan BPBD.
Di Lingkar Luar, kata dia, ditemukan sebuah kios yang masih dibuka. Padahal saat itu sudah lewat dari pukul 20.00 Wita, sebagaimana diatur dalam kebijakan PPKM Mikro. Tim Gabungan menyampari kios tersebut dan mengimbau pemiliknya menutup kios.
Iptu Mikael Donis membenarkan Emanuel Manda tidak mengenakan masker. Lalu karena alasan itu dia menghukum Emanuel Manda push-up.
Emanuel Manda menggeleng kepala tanda menolak hukuman. Ketika ditanya kenapa menggeleng kepala, Emanuel Manda langsung balik kanan dan hendak masuk ke dalam rumah.
“Yang bersangkutan menunjukkan gaya menggertak, seperti mau pukul saya dan Kasat Pol PP. Spontan saya sempat pegang krak baju dia, dan minta ikut ke kantor. Tapi dia tetap tidak mau, lalu personil Tim Gabungan menarik dia dan mengamankan ke mobil patroli Sabhara,” ujar Iptu Mikael Donis.
Media ini menglarifikasi kenapa bisa terjadi luka pada pelipis korban, Iptu Mikael Donis mengaku tidak tahu. Dia menduga saat itu terjadi tarik menarik antara Emanuel Manda dan Tim Gabungan di atas mobil patroli, sehingga bisa saja ada gesekan mengenai pelipis.
“Saya pastikan itu bukan karena pemukulan. Silakan kami diperiksa,” alasan Iptu Mikael Donis.
Pantauan media ini di lobi Mapolres Sikka, Emanuel Manda bersama istri sempat mengadukan hal ini kepada Wakapolres Sikka Kompol I Putu Surawan.
Emanuel Manda mempersoalkan penegakan PPKM Mikro dengan tindakan kekerasan yang mengakibatkan pelipisnya terobek.
Wakapolres Sikka yang dihubungi media ini, belum memberikan keterangan. Dia hanya menjawab masih belum selesai. Dugaan media ini, sepertinya ada upaya untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan.
Novayanti Alfrida Piterson, istri Emanuel Manda, melihat langsung peristiwa pemukulan terhadap suaminya. Dia mengaku kecewa karena Tim Gabungan bertindan kasar dan di luar perikemanusiaan.
“Benar suami saya tidak pakai masker, tapi cara menindaknya tidak main pukul keroyok begitu. Sudah begitu tidak ada yang mengaku lagi,” kesal dia.
Emanuel Manda akhirnya malam itu juga resmi melaporkan dugaan pengeroyokan Tim Gabungan kepada dirinya.*** (eny)



















