
Maumere-SuaraSikka.com: Sebanyak 17 kecamatan di Kabupaten Sikka darurat kekeringan. BPBD Sikka pun kemudian mendistribusikan 465 tangki air bersih berukuran 5.000 liter atau setara 2.325.000 liter.
Seluruh biaya pengadaan air bersih yang berdampak atas penanganan bencana ini, bersumber dari biaya tidak terduga (BTT) tahun 2021 senilai Rp 222.742.250.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala BPBD Sikka Mohamad Daeng Bakir yang dihubungi Kamis (11/11), menjelaskan distribusi air bersih berlangsung selama 1 bulan, yakni dari 25 September 2021 hingga 24 Oktober 2021. Distribusi menyasar warga masyarakat yang tersebar pada 72 desa/kelurahan di 17 kecamatan.
Adapun 17 kecamatan yang darurat kekeringan yakni Bola, Hewokloang, Lela, Waigete, Magepanda, Mego, Paga, Talibura, Nita, Kangae, Koting, Nele, Kewapante, Alok, Alok Barat, Alok Timur, dan Palue.
Praktis hanya 4 kecamatan yang tidak terdampak kekeringan yakni Mapitara, Tanawawo, Doreng, dan Waiblama.
Dia menjelaskan pihaknya mendistribusikan 10 hingga 40 tangki pada setiap titik. Khusus untuk Pulau Pemana di Kecamatan Alok, lanjut dia, distribusi dengan menggunakan profil tank berukuran 1.100 liter.
“Untuk Pemana, kita distribusi air bersih dari Desa Gunung Sari,” ujar Mohamad Daeng Bakir.
Penanganan bencana kekeringan berdasarkan Surat Pernyataan Bencana Nomor BPBD.I-360/KL/266/IX/2021 tertanggal 25 September 2021. Surat Pernyataan Bencana ditandatangani Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo.
Surat Pernyataan Bencana diterbitkan berdasarkan surat Badan Metereologi dan Geofosika Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang tanggal 10 Agustus 2021 tentang Peringatan Dini Kekeringan Metereologi di NTT dan Anomali Iklim yang menyimpulkan bahwa berdasarkan hasil analisis prakiraan curah hujan sangat rendah (kurang dari 20 mm/dasarian) dengan peluang 71-100 persen.
Pernyataan bencana Bupati Sikka juga memperhatikan laporan bencana kekeringan dari 17 kecamatan.*** (eny)















