Pungli di Lokasi Pohon Tumbang, Polisi Tidak Berdaya
Dibaca 12 kali
Gara-gara aksi pungutan liar dihentikan, warga sekitar menutup jalur alternatif di lokasi pohon tumbang di Desa Tanaduen Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka, Senin (3/12)
Maumere-SuaraSikka.com: Pohon mangga yang tumbang Minggu (2/12) pukul 18.00 Wita di Desa Tanaduen Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka Propinsi NTT memicu munculnya pungutan liar (pungli) di lokasi kejadian. Bahkan polisi pun tidak berdaya menghadapi aksi warga sekitar.
Pantauan media ini, Senin (3/12), beberapa warga sekitar sibuk memotong badan pohon yang melintang di Jalan Trans Flores Maumere-Larantuka. Sementara beberapa warga lainnya memindahkan potongan pohon yang sudah dipotong-potong dengan mesin ceinso.
Ada juga warga yang membawa ember berwarna hitam dan dos bekas air mineral. Mereka mendekati kendaraan bermotor yang melewati jalur alternatif yang dibuka warga sekitar sejak pohon itu tumbang. Pengendara sepeda motor atau sopir roda empat pun memasukkan sejumlah lembaran rupiah ke dalam ember dan dos bekas air mineral.
Berita Terkait:
Tidak ada target biaya bagi kendaraan bermotor yang melewati jalur alternatif. Warga sekitar menerima berapa saja uang yang diberi oleh para pelintas jalan. Kalau pun tidak diberi, tidak ada masalah. Menurut warga sekitar yang merahasiakan identitasnya, uang tersebut dimanfaatkan untuk kelancaran aktifitas warga sekitar di lokasi pohon tumbang.
Menurut warga sekitar, sejak pohon tumbang, mereka langsung turun ke jalan dengan membuka jalur alternatif dua bagian yakni utara dan selatan. Bagian selatan terpaksa melintas di halaman rumah warga, persis di depan Kios Coklat Indah. Mereka juga membantu mengamankan kelancaran lalulintas, karena jalur tersebut merupakan jalan negara dengan tingkat mobilitas yang sangat tinggi.
Sebenarnya aparat keamanan yang berada di lokasi kejadian sudah menghentikan aksi pungli warga sekitar. Camat Kangae Marthen Luther Adji juga sudah mengimbau warga untuk tidak melakukan pungli. Warga pun akhirnya tidak lagi memungut uang dari pelintas jalan.
Karena aksi mereka dihentikan, warga sekitar pun langsung menutup jalur alternatif dengan menggunakan batang pohon. Praktis kendaraan pun tidak bisa melintas. Kondisi ini membuat kemacetan makin bertambah parah. Antrian dari jalur timur pun makin panjang, hingga sampai di depan Kantor Camat Kangae.
Terhadap situasi ini, aparat keamanan pun tidak berdaya. Kepala Desa Tanaduen Simporosa mengambil jalan tengah dengan membiarkan warga sekitar memungut uang dengan catatan tidak melakukan pemaksaan. Akhirnya warga pun kembali melakukan aksi pungli.
Beberapa pelintas jalan yang dihubungi mengaku tidak keberatan memberikan uang kepada warga sekitar yang sudah membantu kelancaran lalulintas. Bagi mereka yang terpenting tidak ada unsur paksaan, dan sifatnya sukarela.*** (eny)