Maumere-SuaraSikka.com: Kabupaten Sikka adalah salah satu daerah yang rentan diserang penyakit rabies atau anjing gila. Pemberantasan rabies harus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai aspek dan kepedulian, termasuk intervensi anggaran. Sayangnya, untuk tahun 2018 ini, APBD Sikka tidak mengalokasikan dana sepeserpun untuk penanganan rabies.
Padahal kalau merunut data kasus rabies, terjadi peningkatan yang drastis. Pada tahun 2016 terdata 1 kasus rabies yang positif, dan kemudian meningkat menjadi 11 kasus positip pada tahun 2017. Dengan realitas ini, sesungguhnya menunjukkan butuh penanganan yang serius terhadap penyakit yang membahayakan ini.
Penjabat Bupati Sikka Mekeng P. Florianus yang dihubungi usai paripurna DPRD Sikka, Senin (3/9), menjelaskan pemerintah telah mengusulkan dana penanganan rabies untuk bisa diakomodir ke dalam APBD 2018. Namun pada akhirnya tidak disetujui karena berbagai alasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Untuk tahun 2018 ini kita sudah ajukan, hanya tidak ada. Berapa besar usulannya saya nanti cek dulu ke instansi teknis. Padahal di Sikka ini kita butuh 55.000 dosis, karena populasi anjing saat ini ada lebih dari 60.000 ekor anjing,” jelas Flori Mekeng.
Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sikka Hengki Sali yang dihubungi terpisah menyampaikan pada saat pembahasan RAPBD 2018 pihaknya sudah mengusulkan dana penanganan rabies. Namun pada akhirnya tidak ada alokasi untuk penanganan rabies. Yang terakomodir dalam APBD 2018 hanyalah penanganan hoc cholera sebesar Rp 300 juta menggunakan DID.
“Jadi bukan DPRD tolak. Tapi karena ada kegiatan-kegiatan lain yang juga saat itu dianggap penting untuk diakomodir seperti tambahan dana pengamanan pemilihan kepala daerah, dan lain-lain. Akhirnya diakomodir Rp 300 juta saja untuk penanganan hoc cholera,” jelas Hengki Sali.
Pasca kematian EG, bocah perempuan berusia 5 tahun 5 bulan akibat penyakit rabies, kini pemerintah berencana mengajukan kembali anggaran penanganan rabies melalui Perubahan APBD 2018. Pemerintah sangat berharap DPRD Sikka dengan kewenangan anggaran bisa menyetujui anggaran yang diusulkan.
Hingga kini belum diketahui berapa besar anggaran penanganan rabies termasuk item kegiatan yang akan diusulkan pemerintah. Informasi yang dihimpun media ini, sepertinya pemerintah akan mengusulkan insentif bagi sejumlah tenaga vaksinator yang sudah dilatih. Kehadiran tenaga vaksinator ini sangat penting, untuk membantu melakukan vaksinasi kepada ribuan ekor anjing yang hingga belum dibaksin.*** (eny)















