Di Sikka, 13 Desa Masih Gelap Gulita
Dibaca 18 kali
Manajer PLN Flores Bagian Timur Lambert Pasaribu bersama sejumlah Asisten Manajer saat rapat dengar pendapat bersama DPRD Sikka, Rabu (14/11)
Maumere-SuaraSikka.com: Program 100 persen listrik masuk desa pada tahun 2019 kian terus digalakan PT PLN (Persero). Di Kabupaten Sikka, dari 160 desa/kelurahan, masih ada 13 desa yang gelap gulita karena belum dijangkau listrik. Manajemen PLN Flores Bagian Timur (FBT) memastikan akan menyelesaikannya pada tahun depan.
Manajer PLN FBT Lambert Pasaribu menyebut 13 desa tersebut adalah Desa Watumerak di Kecamatan Doreng, Desa Kesokoja, Ladolaka, Lidi, Maluriwu, Nitunglea, Reruwairere, Rokirole, dan Tuanggeo di Kecamatan Palue, Desa Semparong di Kecamatan Alok, serta Desa Kojadoi, Kojagete, dan Parumaan di Kecamatan Alok Timur. Watumerak menjadi satu-satunya desa di daratan Kabupaten Sikka yang belum diterangi listrik.
“Secara nasional, ratio eletrifikasi adalah 59,58 persen. Untuk Flores Bagian Timur, persentasinya di atas nasional. Khusus untuk Kabupaten Sikka sampai dengan 31 Oktober 2018 sudah mencapai 92 persen. Masih 13 desa yang akan kami programkan untuk tahun 2019,” jelas Lambert Pasaribu, Rabu (14/11), saat rapat dengar pendapat dengan DPRD Sikka.
Setelah listrik masuk ke semua desa pada tahun 2019 mendatang, Lambert Pasaribu menambahkan pihaknya akan konsentrasi pada program listrik masuk dusun. Dengan demikian penerangan listrik akan menjangkau semua wilayah.
Ketua Fraksi Partai Nasdem Siflan Angi memberikan apresiasi kepada Manajemen PLN FBT yang sudah menjalankan program Jokowi 100 persen listrik masuk desa. Namun dia mengharapkan agar implementasi terhadap program itu adalah listrik benar-benar menerangi rumah-rumah warga, bukan sebaliknya hanya jaringan listrik saja yang masuk ke desa.
Sementara itu anggota Fraksi Partai Golkar Antonius Hengki Rebu mengkritisi kinerja PLN Ranting Paga, di mana selama satu minggu terakhir ini listrik sering mati hidup di wilayah Kecamatan Paga. Kondisi ini, sebutnya, berakibat kepada lumpuhnya ekonomi masyarakat di wilayah itu.*** (eny)