Tergiur Ringgit, Susi Susanti Jadi Tenaga Kerja di Malaysia

0
247
Sikka Jajaki Kerja Sama Ketenagakerjaan dengan Kutai Barat
Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo didampingi Stah Ahli Menteri Nakertrans dan Kepala Dinas Nakertrans Kabupaten Sikka Germanus Goleng dalam satu kesempatan beberapa waktu lalu berbincang-bincang dengan calon tenaga kerja yang akan berangkat ke Malaysia;
Maumere-SuaraSikka.com: Susi Susanti nekad menjadi tenaga kerja di Malaysia. Pilihan itu dia lakukan untuk mengubah masa depan keluarga. Ringgit benar-benar menggiurkan sehingga dia pun rela meninggalkan keluarga.
Perempuan bernama lengkap Maria Susi Susanti Bhanda ini adalah warga Desa Done Kecamatan Magepanda Kabupaten Sikka Propinsi NTT. Media ini bertemu dengan dia pasca pengresmian Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) Penempatan dan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PPPMI) di Maumere, Kamis pekan lalu. Saat itu dia sedang mengurus administrasi sebagai calon pekerja migran.
Susi Susanti tidak sendirian. Dia datang bersama empat orang rekan lainnya yang juga berasal dari desa yang sama. Mereka adalah Lusia Re, Emiliana Sebi, Yosefini Jeri, dan Regina Reri. Kelima orang ini merupakan calon pekerja migran yang pertama kali memanfaatkan kehadiran LTSA PPPMI Maumere.
Tergiur Ringgit, Susi Susanti Jadi Tenaga Kerja di Malaysia
Calon pekerja migran Indonesia asal Desa Done Kabupaten Sikka sedang dilayani di LTSA PPPMI Maumere
Setelah melakukan registrasi, kelima calon tenaga kerja ini tampak sedang duduk antri pada bangku panjang di ruangan itu. Setelah itu mereka dilayani para petugas LTSA PPPMI. Ada enam loket pelayanan yang diisi oleh instansi terkait, berturut-turut dari Dinas Ketenagkerjaan dan Transmigrasi, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Dinas Kesehatan, Kantor Imigrasi, BPJS Nakertrans, dan P4KTI.
Kepada media ini Susi Susanti mengaku kesulitan keuangan yang membuat dia bersama rekan-rekannya mekad mengadu nasib di Malaysia sebagai pengasuh rumah tangga. Malaysia menjadi negara penempatan karena dia merasa ada kesamaan kultur yang tidak terlalu menyulitkan dan membutuhkan waktu lama untuk penyesuaian.
Di antara 5 calon tenaga kerja ini, ada beberapa yang sudah pernah bekerja di Malaysia. Waktu itu mereka menempuh jalur non prosedural karena diajak oleh teman. Kali ini untuk tidak melahirkan risiko selama beradi di Negeri Jiran, kelimanya mengambil sikap untuk mengikuti prosedural pengiriman dan penempatan tenaga kerja di luar negeri melalui LTSA PPPMI Maumere.
“Sudah ada jalur resmi jadi memang sebaiknya pakai jalur resmi saja. Apalagi urusannya cepat dan mudah. Dan yang lebih penting kan kami bisa merasa nyaman ketika bekerja di sana. Tidak lagi dikejar-kejar petugas keamanan di sana,” ujar Emiliana Sebi.
Kelima calon tenaga kerja ini juga merasa beruntung karena hari itu mereka sempat ditemui pejabat dari Kementerian Ketenagkerjaan RI dan Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo. Pejabat kementerian dan Bupati Sikka memberikan apresiasi karena mereka berlima sudah mau memanfaatkan LTSA PPPMI sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini