Penyaluran BPNT Terkendala Signal dan Keterbatasan E-Warong

0
31
Penyaluran BPNT Terkendala Signal dan Keterbatasan E-Warong
Penerima manfaat [pse bersama usai menerima bers dan telur dari pemerintah, Selasa (8/10)
Maumere-SuaraSikka.com: Mulai September 2019 ini Kabupaten Sikka akan menyalurkan bantuan pangan non tunai (BPNT) sebagai pengganti beras sejahtera (rastra). Namun sudah ada persoalan yang menghadang program ini, terutama pada masalah signal internet dan keterbatasan Warung Eleltronik Gotong Royong (E-Warong) pada sejumlah desa.
Kepala Bidang Penanganan Fakir Miskin pada Dinas Sosial Kabupaten Sikka Jakobis E Kake menjelaskan ada tantangan tersendiri dalam menyalurkan BPNT. Tantangan itu muncul antara lain karena kondisi geografis dan topografis pada beberapa wilayah daratan dan kepulauan.
Selain itu, katanya, terdapat 20 desa yang tidak memiliki jaringan internet atau dalam istilah blankspot. Dia menyebut seperti Desa Parabubu di Kecamatan Mego, Nirangkliung dan Mahebora di Kecamatan Nita, dan Semparong di Kecamatan Alok.
Lalu Tuanggeo, Ladolaka, Nitunglea, Rokirole dan Kesokoja di Kecamatan PaluE, seterusnya Lewomada di Kecamatan Talibura, berikut  Wogalirit, Watumerak, Wolonterang, Kloangpopot dan Wolomotong di Kecamatan Doreng, serta Hale, Hebing, Natakoli dan Egon Gahar di Kecamatan Mapitara.
Penyaluran BPNT juga terkendala karena penyebaran E-Warong sebagai agen penyaluran di setiap kecamatan belum erata. Sampai saat ini jumah E-Warong yang ada sebanyak 80 buah untuk melayani 13 kelurahan dan 147 desa.
Menurut dia, masih terdapat 71 desa yang tidak memiliki E-Warong. Desa-desa itu tersebar di 15 kecamatan, yaitu Paga, Mego, Lela, Nita, Alok, PaluE, Talibura, Waigete, Kewapante, Bola, Waiblama, Tanawawo, Hewokloang, Doreng dan Mapitara.
Paulus Bronvile selaku Koordinator Kabupaten Tenaga Kesejahreraan Sosial mengakui ada berbagai kendala dalam penyaluran bantuan pangan non tunai. Pihaknya sudah berkoodinasi dengan Himbara BRI Cabang Maumere untuk mengatasi penyaluran kepada desa-desa yang tidak memiliki jaringan internet dan yang belum ada E-Warong.
Untuk yang belum memiliki jaringan internet, penyaluran dilakukan pada desa-desa terdekat yang sudah ada akses jaringan internet. Sebelum penyaluran, pihaknya terlebih dulu berkoordinasi kepada para penerima manfaat, untuk memastikan waktu dan tempat penyaluran. Sedangkan untuk desa-desa yang belum memiliki E-Warong, pihaknya sudah meminta kesediaan E-Warong terdekat untuk bisa melayani lebih dari 1 desa.
“Kami sudah bangun kesepakatan dengan BRI Maumere, sehingga nanti ada yang mobile ke desa-desa yang punya jaringan internet. Juga sudah ada kesepakatan E-Warong  bisa melayani juga penerimamanfaat yang di desanya tidak ada E-Warong,” jelas dia.
Menurut Paulus Bronvile, idealnya setiap desa/kelurahan memiliki 1 E-Warong, sehingga proses penyaluran bisa dilakukan dengan baik. Dia menambahkan beberapa target mengalami kendala modal, sehingga menolak menjadi agen. Agen-agen yang memiliki E-Warong merupakan kelompok binaan Dinas Sosial dan BRI Maumere.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini