Pulau Anano, Destinasi Baru Pariwisata di Pemana

0
86
Pulau Anano, Destinasi Baru Pariwisata di Pemana
Pengunjung berfoto di depan tulisan Pulau Anano
Maumere-SuaraSikka.com: Sebuah destinasi baru pariwisata kini mulai dikembangkan di Pulau Anano yang terletak di Desa Pemana Kecamatan Alok Kabupaten Sikka. Ada banyak daya tarik yang bisa membuat betah para pelancong, pengunjung maupun wisatawan yang mendatangi lokasi tersebut.
Daya tarik yang pertama adalah perairan laut di sekelilingnya yang begitu tenang dan ramah. Jarang sekali terlihat ombak dan gelombang yang deras. Kondisi ini memudahkan pengunjung untuk berenang dan menikmati laut sepuasnya.
Lebih dari itu, diving menjadi salah satu pilihan alternatif terbaik bagi para divers. Keindahan alam bawah laut dengan beragam jenis biota, makin membuat Pulau Anano menjadi primadona. Sebagai salah satu kawasan Teluk Maumere, perairan di sekitar pulau ini pernah menjadi salah satu spot festival bawah laut beberapa waktu lalu.
Pasir putih yang membentang luas, merupakan sisi lain daya tarik Pulau Anano. Dari kejauhan, daya pikat pasir putih itu sudah membersitkan rasa ingin tahu. Setidaknya hamparan pasir putih membentang kurang lebih 6 hektare. Panas terik yang menikam Pulau Anano seperti tidak terasa meskipun bertelanjang kaki di atas pasir putih.
Jenis pasir putih pun sangat spesifik. Gumpalan-gumpalan pasir putih tidak membekas di kaki, bahkan sekalipun kaki pengunjung masih basah karena air laut. Tak heran jika ada saja pengunjung yang nekad berguling-guling di atas pasir putih sekedar menikmati hangatnya kelembutan pasir putih Pulau Anano.
Satu lagi daya tarik tersendiri di Pulau Anano yakni kehadiran penyu dan kura-kura pada setiap bulan. Menurut cerita Kepala Desa Pemana La Ampo, bahwa dalam setiap bulan selalu saja ada kura-kura dan penyu yang naik hingga ke daratan. Dua jenis hewan amphibi ini biasa mencari tempat untuk bertelur. Menyaksikan kura-kura dan penyu melakukan aktifitas biologis, tentu adalah sebuah momentum yang sangat istimewa.
“Di sini setiap bulan kura-kura dan penyu selalu bertelur. Dan saya kira sangat tepat sekali kalau di tempat ini dijadian semacam penangkar,” jelas  La Ampo kepada media ini di sela-sela Pesta Laut Desa Pemana di Pulau Anano, Rabu (16/10).
Pulau Anano sebenarnya tidak asing lagi. Dalam peta nasional, pulau ini ditulis dengan nama Pulau Kambing. Warga Kabupaten Sikka juga mengenal dengan Pulau Kambing, atau ada yang menyebut Pulau Kecil. Namun oleh warga Desa Pemana, pulau ini mulai dipopulerkan dengan nama Pulau Anano, mengambil nama dari adat budaya dan legenda warga setempat.
Seturut legenda, Pulau Pemana adalah ibu, Pulau Besar sebagai bapak, sedangkan pulau-pulau kecil di sekitarnya merupakan anak-anak. Suatu ketika, sang bapak marah, sehingga mengakibatkan anak-anaknya lari, dua di antaranya adalah Pulau Sukun dan Pulau Palue. Dua pulau ini letaknya terpisah jauh dari Pulau Besar dan Pulau Pemana.
Pulau Besar berdanpingan dengan anak-anaknya seperti Parimaan, Pulau Koja, dan Pulau Babi. Sementara Pulau Pemana berdampingan dengan anak bungsunya yakni Pulau Anano. Sebagai ibu, Pulau Pemana merangkul kuat anaknya Anano, dan itu dibuktikan dengan dua lempengan atau dalam bahasa setempat disebut taka. Dua taka ini berada di ujung kiri kanan Pulau Anano, dan warga setempat percaya bahwa dua taka itu melambangkan tangan Pulau Pemana.
Untuk menuju Pulau Anano, harus menempuh perjalanan laut selama 2 jam 15 menit. Para pengunjung bisa menggunakan kapal-kapal motor yang melayani rute Maumere-Pemana baik dari Pelabuhan Laut Laurens Say Maumere, atai dengan menggunakan feri dari Pelabuhan Penyeberangan Feri Kewapante.
Jika melalui Pemana, maka dibutuhkan lagi kurang lebih 10 menit dengan kapal-kapal motor tradisionil. Tidak ada dermaga di Pulau Anano, tetapi kapal-kapal motor berukuran kecil bisa mengantar pengunjung sampai ke pesisir laut.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini