Setelah 6 Hari di Kampung, 2 Pelaku Perjalanan “Digelandang” ke Lokasi Karantina Terpusat

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 8 Agustus 2020 - 09:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 7 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasutri pelaku perjalanan dibawa ke lokasi karantina terpusat, Jumat (7/8) (foto: istimewa)

Pasutri pelaku perjalanan dibawa ke lokasi karantina terpusat, Jumat (7/8) (foto: istimewa)

Maumere-SuaraSikka.com: Dua orang pelaku perjalanan “digelandang” ke lokasi karantina terpusat di Maumere, Jumat (8/8), sekitar pukul 14.30.Wita.

Keduanya sudah 6 hari di kampung, tanpa ada komunikasi dan koordinasi dengan Satgas Covid Kecamatan dan Desa setempat.

Padahal 2 orang ini datang dari Surabaya yang dikenal sebagai zona merah. Keduanya tiba di Kabupaten Sikka pada Sabtu (1/8). Mereka menggunakan transportasi jalan darat.

Ternyata 2 pelaku perjalanan ini merupakan pasangan suami istri. Di kampung di Desa Kajowair Kecamatan Hewokloang, keduanya tidak menjalankan karantina mandiri.

Petugas Puskesmas yang mengetahui keberadaan pasangan suami istri ini, akhirnya membawa mereka ke lokasi karantina terpusat di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sikka di Jalan Ahmad Yani.

Setelah ditelusuri ternyata dua orang ini diketahui tidak mengantongi dokumen apapun yang menerangkan tentang status mereka terhadap virus corona.

Baca Juga :  Bom Hantam Gereja Katolik di Papua Tengah, 5 Korban Dibawa Lari ke Rumah Sakit 

“Tidak ada surat keterangan apapun dari Surabaya, seperti hasil pemeriksaan rapid test atau keterangan bebas Covid,” ujar seorang petugas di posko lokasi karantina.

Hingga kini belum diketahui bagaimana caranya pasutri ini bisa lolos dari Surabaya hingga tiba dengan aman di kampung halaman. Padahal setiap orang yang hendak bepergian jauh, apalagi antar kabupaten antar propinsi, mesti dilengkapi dokumen kesehatan.*** (eny)

Berita Terkait

Bertahun-Tahun Kontrak Rumah di Maumere Demi Bisa Cuci Darah, Warga Flotim Minta Pemerintah Hadirkan Unit Hemodialisis di Larantuka
Paguyuban Sound System Maumere Sumbang Rp 25 Juta untuk Pembangunan Gereja Santo Gabriel Waioti
Partisipasi Rendah, Hanya 5 SMK di Sikka Ikut FLS3N dan O2SN
Cairan Dialisa Sudah Tersedia, Pasien Cuci Darah di Maumere Kembali Dilayani
Sikka Darurat, Cairan Dialisa Habis, Pasien Cuci Darah Tidak Dilayani
Bom Hantam Gereja Katolik di Papua Tengah, 5 Korban Dibawa Lari ke Rumah Sakit 
Fantastis! Closing Ceremony Festival Sepak Bola, 1500 Pelajar di Sikka Kreasi Tarian Kolosal
Jelang 2 Hari Launching, HM Infinity Sport & Cafe Bagi 100 Paket Sembako untuk Warga Kota Uneng

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 08:54 WITA

Bertahun-Tahun Kontrak Rumah di Maumere Demi Bisa Cuci Darah, Warga Flotim Minta Pemerintah Hadirkan Unit Hemodialisis di Larantuka

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:56 WITA

Paguyuban Sound System Maumere Sumbang Rp 25 Juta untuk Pembangunan Gereja Santo Gabriel Waioti

Rabu, 20 Mei 2026 - 22:38 WITA

Partisipasi Rendah, Hanya 5 SMK di Sikka Ikut FLS3N dan O2SN

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:22 WITA

Cairan Dialisa Sudah Tersedia, Pasien Cuci Darah di Maumere Kembali Dilayani

Senin, 18 Mei 2026 - 15:12 WITA

Sikka Darurat, Cairan Dialisa Habis, Pasien Cuci Darah Tidak Dilayani

Kamis, 14 Mei 2026 - 12:13 WITA

Fantastis! Closing Ceremony Festival Sepak Bola, 1500 Pelajar di Sikka Kreasi Tarian Kolosal

Kamis, 14 Mei 2026 - 08:37 WITA

Jelang 2 Hari Launching, HM Infinity Sport & Cafe Bagi 100 Paket Sembako untuk Warga Kota Uneng

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:33 WITA

Festival Sepak Bola Pelajar Sukses Meniti Prestasi, Bupati Sikka Beri Apresiasi

Berita Terbaru