3 Proyek Irigasi di Sikka Dilelang Ulang, Ada Apa?

0
122
3 Proyek Irigasi di Sikka Dilelang Ulang, Ada Apa?
Jaringan irigasi di Kecamatan Paga (foto: istimewa)

Maumere-SuaraSikka.com: Sebanyak 3 paket proyek irigasi di Dinas PUPR Kabupaten Sikka dilakukan pelelangan ulang. Beberapa peserta lelang mempertanyakan hal ini.

Tiga paket yang dilelang ulang yakni Rehabilitasi Jaringan Irigasi (JI) Dagelongga di Desa Korobhera Kecamatan Mego senilai Rp 780 juta.

Lalu Rehabilitasi JI Puunaka di Desa Done senilai Rp 450 juta dan Rehabilitasi JI Nangadolu di Desa Kolisia senilai Rp 650 juta. Dua lokasi terakhir terletak di Kecamatan Magepanda.

Ketua Pokja 3 Fransiskus Metsen yang dihubungi di ruang kerjanya, Kamis (13/8), mengakui 3 paket proyek tersebut gagal lelang, sehingga harus dilelang ulang. Pengumuman lelang ulang sudah dilakukan.

Dia mengatakan Pokja telah melakukan evaluasi penawaran dan menemukan tidak ada peserta yang memenuhi persyaratan.

Peserta lelang proyek Rehabilitasi JI Dagelongga sebanyak 14 kontraktor, lalu Rehabilitasi JI Puunaka diikuti 13 kontraktor dan Rehabilitasi JI Nangadolu diikuti 12 kontraktor.

Sementara satu-satunya proyek irigasi yang terus berproses sesuai jadwal yakni Rehabilitasi JI di Desa Tilang Kecamatan Nita senilai Rp 660 juta. Proyek ini diikuti 13 kontraktor.

“Ya, 3 paket itu gagal lelang karena dari evaluasi penawaran diketahui tidak ada peserta yang memenuhi persyaratan,” jelas Fransiskus Metsen.

Dia menduga peserta lelang tidak membaca dan mempelajari secara utuh dokumen lelang. Dokumen lelang yang dipakai pada kegiatan proyek ini, kata dia, mengacu kepada Permen PUPR Nomor 14 Tahun 2020.

“Mungkin saja peserta lelang masih menggunakan pemahaman pada Perpres yang lama. Padahal ada perbedaan yang mendasar. Tapi ini hanya dugaan saja,” ujar dia.

Menyertai pelelangan ulang, Pokja mengubah salah satu persyaratan. Peserta lelang diminta memasukkan 1 jenis dokumen SKT. Padahal pada pelelangan sebelumnya Pokja mensyaratkan 2 dokumen SKT.

Fran Metsesn beralasan pada saat aanwijzing banyak rekanan yang mengusulkan agar hanya 1 dokumen SKA. Pokja mempertimbangkan hal itu, kemudian memasukkan dalam addendum dokumen kontrak.

Ketika ditanya perubahan persyaratan ini sebagai upaya meloloskan kontraktor tertentu, Frans Metsen menampiknya.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini