Waspada! Stunting Mengintai Anak

0
129
Waspada! Stunting Mengintai Anak
Ilustrasi

Hingga kini, istilah stunting masih banyak belum dikenal oleh masyarakat Indonesia, termasuk warga masyarakat di Propinsi NTT.

Padahal menurut data, Pemantauan Status Gizi (PGZ) Tahun 2017 prevalensi balita status stunting di Indonesia masih tinggi, yakni 29,6 persen di atas batasan yang ditetapkan WHO (20 persen).

Tahun 2015, Indonesia tertinggi kedua di bawah Laos untuk jumlah anak stunting. Saat ini Indonesia merupakan negara nomor empat dengan angka stunting tertinggi di dunia.

Dan menurut hasil Survei Status Gizi Balita Terintegrasi (SSGBI) oleh Balitbangkes Kemenkes RI Tahun 2019, diketahui bahwa kasus stunting tertinggi di Indonesia, terdapat di NTT.

Artinya, semakin banyak anak Indonesia mengalami masalah tumbuh kembang stunting. Masyarakat perlu memahami apa itu stunting dan bagaimana pencegahannya.

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang menyebabkan seorang anak menjadi kerdil. Mengutip laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), stunting merupakan satu masalah tumbuh kembang yang terjadi pada anak. Kondisi ini menyebabkan anak memiliki perawakan pendek akibat gangguan pertumbuhan yang sebagian besar terjadi karena masalah nutrisi. Stunting bisa terjadi karena asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, atau asupan tidak dapat mencukupi kebutuhan gizi.

Secara umum, stunting diartikan sebagai “kesalahan” pemberian asupan gizi yang dinilai kurang dari jumlah yang dibutuhkan. Pemberian gizi yang cukup seharusnya sudah dimulai bahkan sejak anak masih dalam kandungan, hingga usia 2 tahun.

Ada beberapa faktor yang bisa memicu stunting pada anak antara lain faktor lingkungan seperti status gizi ibu, tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori, pola pemberian makan kepada anak, kebersihan lingkungan, dan angka kejadian infeksi di awal kehidupan seorang anak.

Selain faktor lingkungan, stunting juga disebabkan oleh faktor genetik dan hormonal. Akan tetapi, sebagian besar perawakan pendek disebabkan oleh malnutrisi.

Jika gizi tidak dicukupi dengan baik, dampak yang ditimbulkan memiliki efek jangka pendek dan efek jangka panjang. Gejala stunting jangka pendek meliputi hambatan perkembangan, penurunan fungsi kekebalan, perkembangan otak yang tidak maksimal yang dapat mempengaruhi kemampuan mental dan belajar tidak maksimal, serta prestasi belajar yang buruk.

Sedangkan gejala jangka panjang meliputi obesitas, penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan osteoporosis.

Periode Krisis Stunting
Dampak stunting umumnya terjadi disebabkan kurangnya asupan nutrisi pada 1.000 hari pertama anak. Hitungan 1.000 hari di sini dimulai sejak janin sampai anak berusia 2 tahun. Permasalahan stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia 2 tahun. Awal kehamilan sampai anak berusia 2 tahun atau periode 1.000 hari pertama kehidupan merupakan periode kritis terjadinya gangguan pertumbuhan, termasuk perawakan pendek.

Bagaimana Mengenali Stunting?

Waspada! Stunting Mengintai Anak

Beberapa gejala khas stunting pada anak yang bisa dikenali, di antaranya:
1. Anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya;
2. Proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya;
3. Berat badan rendah untuk anak seusianya;
4. Pertumbuhan tulang tertunda;

Mencegah Stunting
Ada beberapa cara untuk mencegah stunting, antara lain:
1. Melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur;
2. Menghindari asap rokok dan memenuhi nutrisi yang baik selama masa kehamilan antara lain dengan menu sehat seimbang, asupan zat besi, asam folat, yodium yang cukup;
4. Mengikuti program imunisasi anak terutama imunisasi dasar;
5. Memberikan ASI eksklusif sampai anak Anda berusia 6 bulan dan pemberian MPASI yang memadai;
6. Menerapkan pola hidup bersih dan sehat, terutama mencuci tangan sebelum makan, serta memiliki sanitasi yang bersih di lingungan rumah.

Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancamam terhadap kemampuan daya saing bangsa.

Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya stuting memang memerlukan ketekunan dan usaha yang menyeluruh dari semua pihak. Ingat, tanggung jawab ini bukan hanya milik para ibu, melainkan milik seluruh anggota keluarga.***

Ditulis oleh:
dr. Maria Delawanti Terang, betugas di Maumere, Kabupaten Sikka Propinsi NTT

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini