Lewoleba-SuaraSikka.com: Erupsi Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata dikabarkan mulai meningkat, Minggu (29/11). Ribuan warga di dua kecamatan yakni Ile Ape dan Ile Ape Timur pun mulai evakuasi ke Lewoleba.

Informasi yang dihimpun media ini dari wartanusantara.com yang terbit di Lewoleba, warga semakin panik karena gunung berapi itu mulai memuntahkan lahar panas dan batuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Setda Kabupaten Lembata Petrus Demong membenarkan saat ini banyak warga dari Ile Ape dan Ile Ape Timur mulai mengungsi ke Lewoleba.
“Erupsi Gunung Ile Lewotolok semakin meningkat. Lahar panas, pasir dan batuan mulai dimuntahkan. Warga mulai panik dan evakuasi mandiri ke Lewoleba,” jelas dia.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata tengah bergerak membantu orangtua, jompo dan bayi serta anak-anak untuk segera diungsikan. Sejumlah keluarga di Lewoleba sibuk menerima warga yang evakuasi.

Gunung Ile Lewotolok mulai menunjukan aktifitas erupsi sejak Jumat (27/11) lalu. Aktifitas erupsi mulai meningkat Minggu pagi sekitar pukul 09.45 Wita. Banyak foto dan video yang beredar terkait peristiwa alam ini.
Kepulan asap tebal di puncak gunung membubung tinggi ke langit, kurang lebih 500 meter. Apalagi terdengar juga ledakan dahsyat dari dalam perut gunung.
Ursula, warga Watodiri Kecamatan Ile Ape terpaksa mengungsi ke Lewoleba. Dia kuatir Ile Lewotolok bakal lebih “marah” lagi pada beberapa hari ke depan.
“Tadi pas asap keluar, saya dengar bunyi ledakan. Aduh, saya takut sekali. Makanya saya putuskan evakuasi,” jelas dia.
Ursula evakuasi mandiri dengan roda dua. Sialnya, dia tidak sadar kalau motornya kehabisan bensin. Dia bersyukur ada warga lain yang memberikan bensin.
Saking panik, Ursula ke Lewoleba tanpa membawa anak-anaknya. Dia mengaku saat hendak evakuasi anak-anaknya sedang berada di luar rumah.
Erupsi Gunung Api Ile Lewotolok terakhir kali pada 100 tahun lalu. Kali ini erupsinya lebih dahsyat.
Gunung Lewotolo, juga disebut dalam bahasa setempat sebagai Ile Lewotolok atau Ile Ape merupakan gunung berapi stratovolcano yang terletak di bagian utara Pulau Lembata.
Gunung ini dengan ketinggian 1.423 m atau 4.669 kaki. Puncak gunung ini memiliki kawah besar menyerupai kaldera berbentuk bulan sabit yang disebut warga dengan nama Metong Lamataro. Ini adalah bagian dari kawah lama Gunung Lewotolo.
Sebuah kerucut terbentuk di sisi tenggara Metong Lamataro dan menjadi puncak tertinggi Gunung Lewotolo saat ini. Kerucut tersebut memiliki lubang kawah aktif di puncaknya dengan hembusan asap solfatara di hampir semua bagian kerucut. Solfatara berwarna kuning membara, hablur belerang hasil sublimasi banyak ditemukan di lerang timur, utara, dan selatan dari kerucut baru ini.

Sejarah letusan Gunung Lewotolo tercatat sejak tahun 1660 kemudian tahun 1819, dan 1849. Pada tanggal 5 dan 6 Oktober 1852 terjadi letusan yang merusak daerah sekitarnya dan muncul kawah baru dan komplek solfatara di sisi timur-tenggara.
Letusan Gunung Lewotolo juga terjadi pada tahun 1864, 1889, dan terakhir pada 1920 dikabarkan penduduk terjadi letusan kecil. Selanjutnya pada tahun 1939 dan 1951 terjadi kenaikan aktivitas vulkanik Gunung Lewotolo.
Letusan Gunung Lewotolo yaitu berupa lontaran lava pijar, abu, awan panas dan hembusan gas beracun.
Gunung api ini sempat mengalami masa krisis gempa pada Januari 2012. Saat itu PVMBG meningkatkan status gunung dari normal ke waspada hingga siaga, hanya dalam waktu kurang dari satu bulan.
Namun, pada 25 Januari 2012 pukul 16.00 Wita, PVMBG menurunkan statusnya dari siaga ke waspada dan turun lagi menjadi berstatus aktif normal pada 17 Oktober 2013 pukul 10.00 Wita.
Status aktivitas vulkanik gunung ini ditingkatkan dari aktif normal ke waspada sejak terhitung 7 Oktober 2017, pukul 20.00 Wita. Pada tanggal 28 November 2020 terjadi letusan eksplosif yang memaksa warga yang menduduki kaki gunung ini berlarian menyelamatkan diri dan mengungsi.
Akibat aktivitas yang terus-menerus, pada tanggal 29 November 2020 status kebahayaan gunung ditingkatkan menjadi level III atau siaga.*** (eny)















