Polemik Bantuan Pengungsi, Sekda Lembata Angkat Bicara

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 6 Desember 2020 - 22:47 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 10 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekda Lembata Paskalis Ola Tapobali

Sekda Lembata Paskalis Ola Tapobali

Maumere-SuaraSikka.com: Polemik terkait bantuan pengungsi erupsi Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, mendorong Sekda Lembata Paskalis Ola Tapobali pun angkat bicara.

Agar tidak terjadi polemik yang berkepanjangan, Sekda Lembata pun resmi mengeluarkan siaran pers untuk menjawabi polemik yang terjadi di tengah masyarakat.

“Siaran pers ini dikeluarkan agar dapat memberi kepastian, kenyamanan dan mengembalikan trauma healing bagi warga pengungsi,” tegas dia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dia menegaskan bahwa Pemkab Lembata bukan bermaksud untuk menyengsarakan warga pengungsi.

Tapi justeru sebaliknya pemerintah daerah berniat melayani pengungsi secara maksimal, terutama yang selama ini mengeluh belum tersentuh pelayanan logistik dan kesehatan.

“Termasuk untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti kematian dan lain-lain oleh karena tidak mendapat sentuhan pelayanan kesehatan dengan baik di rumah,” jelas dia.

Adapun polemik yang berkembang di tengah masyarakat menyusul adanya informasi bahwa Bupati Lembata Eliazer Yentji Sunur menolak memberikan bantuan kepada para pengungsi yang tinggal di rumah keluarga.

Baca Juga :  100 Rombel pada 22 Sekolah di Sikka Harus Belajar di Tenda Darurat, SMPN 1 Maumere Pindah ke SKB

Kondisi ini mengakibatkan banyak pengungsi yang berada di rumah keluarga di Kota Lewoleba tidak diberikan bantuan.

Melalui siaran pers yang terbit Minggu (6/12), Sekda Lembata menguraikan 7 poin penting terkait reaksi publik yang beragam menyusul surat pernyataan dari warga pengungsi yang tidak mau dievakuasi secara terpusat.

Dia menegskan bahwa bagi warga yang tetap bersikeras tidak dipusatkan kembali pada pos penampungan yang disiapkan pemerintah, Komando Tanggap Darurat telah diperintahkan untuk melakukan advokasi dan edukasi kepada pemilik rumah penampungan agar proaktif dalam upaya bersama penanganan warga pengungsi dengan memberikan perhatian lebih kepada warga, dan juga berkoordinasi dengan Posko untuk pemenuhan kebutuhan warga tersebut.

Pemenuhan kebutuhan terhadap warga masyarakat yang masih ingin bertahan di rumah-rumah penampungan secara mandiri, kata dia, tetap diperhatikan dan diperlakukan sama dengan para pengungsi lainnya.

Terhadap warga yang masuk dalam kelompok rentan, diimbau agar bisa dipusatkan ke pos penampungan yang disiapkan pemerintah untuk mendapat pelayanan yang lebih memadai terutama aspek kesehatan.

Baca Juga :  Dana Desa di Sikka Anjlok Setengah Bagian, Pelayanan Tidak Optimal

Dia menambahkan pemerintah mengajak seluruh pihak agar menghilangkan prasangka negatif, dan saling bekerja sama menangani warga pengungsi.

Dia pun mengajak keterlibatan para Tokoh Agama, Tokoh Politik, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Pejabat Pemerintah, Pemerintah Desa dan seluruh perangkatnya, NGO/LSM/Organisasi peduli bencana, agar tetap menjaga kondisi sosial masyarakat berlagsung kondusif dalam situasi bencana.

“Kita sama-sama mendoakan agar peristiwa alam ini segera berlalu sehingga masyarakat Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur serta masyarakat Lembata secara umum, dapat kembali beraktifitas sebagaimana mestinya,” harap dia.

Sebagaimana diketahui ribuan orang dari Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur mengungsi ke Kota Lewoleba sejak Minggu pekan lalu, menyusul peningkatan aktifitas Gunung Ile Lewotolok.

Ada yang evakuasi secara mandiri ke rumah-rumah keluarga, ada juga yang dievakuasi ke lokasi pengungsi yang disiapkan pemerintah daerah setempat.

Pemerintah daerah setempat terus melakukan pembenahan manajemen penanggulangan bencana, dan diupayakan dapat dilakukan secara maksimal.*** (eny)

Berita Terkait

Meski Masa Tanggap Darurat, Sekolah di Sikka Mulai Tatap Muka, Prioritaskan Keselamatan dan Fokus Hilangkan Trauma
Status Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik di Sikka Diperpanjang Hingga 11 September 2026
Kemdikti Gratiskan UKT 5.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT
Ruang Tunggu Ambruk, 3 Orang Meninggal Dunia, PMKRI Maumere Desak Audit Forensik Pelabuhan Laurens Say
Rehab-Rekon Pascagempa Bumi di Sikka, Golkar Serukan Pakai Bantuan Presiden Rp 20 Miliar, BTT Jangan Diganggu
Sikka Fokus 4 Pilar Capai Target Pajak Daerah
Wali Kota Kupang Serahkan Bantuan Rp 200 Juta dan 500 Paket Sembako untuk Korban Gempa di Sikka
Dana Desa di Sikka Anjlok Setengah Bagian, Pelayanan Tidak Optimal

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 10:42 WITA

Meski Masa Tanggap Darurat, Sekolah di Sikka Mulai Tatap Muka, Prioritaskan Keselamatan dan Fokus Hilangkan Trauma

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 23:13 WITA

Status Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik di Sikka Diperpanjang Hingga 11 September 2026

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 21:41 WITA

Kemdikti Gratiskan UKT 5.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 19:10 WITA

Ruang Tunggu Ambruk, 3 Orang Meninggal Dunia, PMKRI Maumere Desak Audit Forensik Pelabuhan Laurens Say

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:13 WITA

Rehab-Rekon Pascagempa Bumi di Sikka, Golkar Serukan Pakai Bantuan Presiden Rp 20 Miliar, BTT Jangan Diganggu

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:56 WITA

Wali Kota Kupang Serahkan Bantuan Rp 200 Juta dan 500 Paket Sembako untuk Korban Gempa di Sikka

Jumat, 28 Agustus 2026 - 10:37 WITA

Dana Desa di Sikka Anjlok Setengah Bagian, Pelayanan Tidak Optimal

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:01 WITA

BNPB Komitmen Percepat Proses Rehab-Rekon Pascagempa Bumi Tektonik di Flores, Rumah Rusak Mencapai 77.912 Unit

Berita Terbaru

Sebuah rumah warga di Kecamatan Palue Kabupaten Sikka rusak berat diguncang gempa bumi tektonik Sabtu (15/8) lalu

Bencana Alam

Kemdikti Gratiskan UKT 5.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT

Sabtu, 29 Agu 2026 - 21:41 WITA