


Maumere-SuaraSikka.com: Dinas Kesehatan Sikka berhasil menekan demam berdarah dengue (DBD) di daerah itu. Instansi ini menerapkan sanitasi total berbasis masyarakat (STBM).
STBM digencarkan dengan melancarkan berbagai strategi untuk mengubah mindset masyarakat melalui pemberdayaan. Srrategi yang paling dominan yakni metode pemicuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pola yang dipakai antara lain permainan game dan pembentukan huruf. Pola ini terbukti lebih mendapat respon dan partisipasi masyarakat.
Dinkes Sikka melalui Bidang Kesejahteraan Masyarakat merangkul berbagai potensi untuk melancarkan metode pemicuan. Berbagai perangkat dilibatkan seperti Camat, Kepala Desa, Babinsa, Babinkantibmas, hingga Ketua RT/RW.

Kasie Kesling Kesjaor Bidang Kesmas
Ratna Yuliati menuturkan strategi bermain game dan membentuk gambar edukasi, rupanya lebih menyentuh.
Dari pendekatan sederhana tersebut, kata dia, warga masyarakat dari anak-anak hingga dewasa tergerak sendiri untuk melakukan pencegahan DBD.
Warga masyarakat secara sadar mulai memantau jentik nyamuk dan rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Warga tidak saja fokus pada rumah dan sekitar rumah sendiri, tapi memantau juga pada rumah warga yang lain.
“Karena bisa dipantau oleh orang lain, makanya warga menjadi malu kalau di rumahnya ada jentik nyamuk, ada sarang nyamuk. Kuatir diolok warga lain. Sehingga setiap saat selalu ada kesadaran untuk bersih-bersih lingkungan,” jelas dia di Aula Kantor Dinkes Sikka, Kamis (4/3).
Gerakan STBM dengan metode pemicuan, jelas Ratna Yuliati, sudah dilaksanakan pada 20 desa dan 1 sekolah.
Pada masing-masing lokasi ditunjuk seorang natural leader untuk memicu gerakan STBM sesuai karakter alamiah di tempat tersebut.
“Cara-cara ini menjadikan angka bebas jentik kita sangat tinggi, hisa mencapai 90 persen lebih,” ungkap Ratna Yuliati.
Gerakan STBM dilaksanakan sepanjang tahun 2020 hingga kini. Alhasil, Kabupaten Sikka berhasil menekan laju DBD.
Tahun 2020, Kabupaten Sikka masuk dalam kategori kejadian luar biasa (KLB) DBD. Namun melalui gerakan STBM dengan metode pemicuan, Sikka akhirnya keluar dari zona kritis itu.
Pada masa Januari hingga Pebruari 2020, Sikka mencatat 1.074 kasus DBD, dengan 11 orang meninggal akibat penyakit ini. Dalam kurun waktu yang sama di tahun 2021, kasus DBD menurun drastis, hanya 46 kasus.

“Sampai hari ini tercatat 54 kasus, 8 di antaranya sedang dirawat di RSUD TC Hillers. Syukurlah belum ada yang meninggal,” tambah Sekretaris Dinkes Sikka Clara Francis, Kamis (4/3).
Clara Francis memastikan Gerakan STBM dengan metode pemicuan menjadi pendekatan penting untuk menekan laju DBD. Dia berharap gerakan ini bisa menjangkau semua wilayah di daerah itu.*** (eny)

















