



Maumere-SuaraSikka.com: Kementerian Kominfo menggelar pelatihan online digitalisasi desa wisata dan produk-produk wisata lainnya. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari sejak Senin (28/6) di Hotel Sylvia Maumere.
Pada kegiatan ini Kemenkominfo menggandeng juga Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) dan berkolaborasi dengan PT Telkom Indonesia. Adapun platform digitalisasi yang diperkenalkan pada kegiatan ini yakni wonderin.id.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebenarnya pelatihan digitalisasi ini berlangsung serentak di 5 kabupaten, yakni Sikka, Ende, Flotim, Lembata, dan Alor. Khusus untuk di Sikka, pelatihan difasilitasi Martin Wodon.

Kepala Dinas Infokom Sikka Kensius Didimus mengapresiasi inisiatif Kemenkominfo mengembangkan digitalisasi di bidang kepariwisataan.
Dia mengatakan digitalisasi desa wisata dan produk-produk wisata desa lainnya menjadi harapan baru bagi pelaku usaha yang sedang bergiat.
“Karena itu kegiatan ini kami maknai dengan semangat baru memahami dan memanfaatkan jaringan digital desa untuk membangun kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat pedesaan di Kabupaten Sikka,” ujar Kensius Didimus yang membuka secara resmi kegiatan pelatihan.
Dia berharap dengan kekuatan jaringan digital desa, dapat melahirkan ekosistem digitalisasi dalam peningkatan sumber daya manusia.
Pelaku usaha, kata dia, bisa belajar berproduksi, menghasilkan produk berkualitas, mampu mengelola usaha rumah tangga, badan usaha milik desa dan UMKM, serta mampu membuat kemasan dan label produk.
Selain itu bisa belajar sistem pemasaran dan pembayaran digital, sehingga pada gilirannya bisa memberikan manfaat maksimal dan bekelanjutan untuk kesejahteraan ekonomi dan sosial.
“Sangat bermanfaat untuk pelaku usaha dan keluarganya di pedesaan. Dan yang pasti, berdampak kepada seluruh warga kota dalam kehidupan bersama,” ujar dia.
Peserta kegiatan merupakan pelaku pariwisata yang mengelola desa wisata, akomodasi, serta tour and travel.
Sebanyak 50 peserta dari perwakilan desa wisata, akomodasi, serta tour and travel yang hadir pada kegiatan ini. Antara lain di antaranya desa wisata Kojadoi, desa wisata Watublapi yang juga terkenal dengan Sanggar Bliran Sina, pemilik Blue Ocean, Hotel Sylvia, dan pengelola tour and travel.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan ilmu tentang pengenalan produk digitalisasi, lalu overview, syarat dan ketentuan, pengaturan kamar dan harga, dan pengelolaan transaksi.
Selain dalam bentuk teori serta berbagi pengalaman, Martin Wodon selaku fasilitator juga mensinergikan dengan praktik-praktik pengelolaan digitalisasi untuk memfungsikan wonderin.id.
Dia mengatakan kegiatan pelatihan berlangsung selama 3 hari, tapi tidak otomatis menjadikan peserta memahami digitalisasi desa wisata dan produk-produk wisata lainnya.
“Ini 3 hari belajar, tapi secara general saja. Nanti akan ada pendampingan selama 3 bulan,” kata dia.

Suprapto, mewakili PT Telkom Indonesia menyebut wonderin.id merupakan platform digital untuk travel dan tourism Indonesia yang dikembangkan Telkom. Tujuannya untuk mewujudkan digitalisasi industri pariwisata di 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) di Indonesia.
Kolaborasi tersebut memiliki ruang lingkup yang meliputi pelatihan dan pendampingan pelaku pariwisata dalam digitalisasi sektor akomodasi, tempat wisata, dan paket wisata.
Program ini dimulai dari lokasi di Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat yang merupakan Destinasi Pariwisata Super Premium yang dicanangkan Presiden Joko Widodo.

Martin Wodon menambahkan 10 kabupaten menjadi target pelaksanaan digitalisasi yakni Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Nageko, Ende, Sikka, Lembata, Flores Timur, dan Alor.
Kegiatan ini, kata Martin Wodon, mendorong upaya kolaboratif bersama seluruh pemangku kepentingan guna mencapai proses digitalisasi pariwisata yang lebih baik ke depan.
Layanan digitalisasi desa wisata akan mempermudah proses pengelolaan hingga penjualan. Sehingga berbagai pengelola bisnis wisata dapat terus bergerak maju mengikuti perkembangan terkini.
Pantauan media ini, sebelum kegiatan dimulai, fasilitator, peserta dan pihak yang terlibat pada kegiatan menjalani rapid antigen. Hal ini sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19. Kegiatan pelatihan pun berlangaung dengan menerapkan protokol kesehatan.*** (eny)


















