
Maumere-SuaraSikka.com: Sekretaris Fraksi PDIP Benediktus Lukas Raja atau Dicky Raja akhirnya meminta maaf atas pernyataannya yang mencederai dokter dan tenaga kesehatan di Kabupaten Sikka.
Permohonan maaf Dicky Raja disampaikan secara resmi pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara DPRD Sikka dengan 16 organisasi profesi kesehatan di Kabupaten Sikka, Senin (12/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Mungkin pernyataan saya waktu RDP kemarin, apa yang saya sampaikan sama sekali tidak bermaksud menjustifikasi dokter dan nakes. Kalau pun itu menyinggung Bapak Ibu semua, sebagai manusia saya minta maaf,” ungkap Dicky Raja.
Sebelum menyampaikan permohonan maaf, awalnya Dicky Raja menjelaskan bahwa pernyataanya saat RDP bersama Satgas Covid Sikka merupakan tugasnya menjalankan fungsi kontrol yang diatur secara konstitusional.
Mantan Ketua GMNI Sikka ini kemudian berupaya melakukan kilas balik saat RDP bersama Satgas Covid Sikka pada Jumat (9/7) lalu.
Namun penjelasan ini terkesan bertele-tele. Ketua Fraksi Partai Gerindra Fransiskus Stephanus Say menginterupsi dan meminta Dicky Raja langsung menglarifikasi pernyataan sikap dan tuntutan 16 organisasi profesi kesehatan.

Usai Dicky Raja menyampaikan permohonan maaf, Ketua DPRD Sikka Donatus David yang memimpin RDP langsung membacakan rekomendasi dan menutup rapat.
Sikap Ketua DPRD Sikka ini kemudian memicu ketidakpuasan sejumlah anggota yang tidak sempat memberikan pendapat.

Mendadak suasana berubah menjadi ricuh. Terdengar berkali-kali bunyi pukulan pada meja anggota dewan. Tidak diketahui dari mana sumbernya.
Spontan Fransiskus Ropi Cinde, anggota DPRD Sikka dari Fraksi PAN melempar sejumlah dokumen yang dipegangnya ke lantai. Bahkan dia sempat membuka baju safari yang dikenakannya.
Sepertinya dia masih tidak puas dengan pernyataan Dicky Raja yang menyebut rumah sakit lebih fokus urus Covid karena intensifnya besar.
“Saya suami nakes. Kami tidak makan dari uang insentif Covid,” teriak dia.
Sejumlah dokter dan nakes yang berada di sekitar situ, kemudian pelan-pelan keluar dari ruang paripurna. Suasana kembali kondusif setelah beberapa anggota dewan menenangkan Frans Sinde.

Beberapa dokter hadir pada RDP tersebut seperti Ketua IDI Mario Nara, Direktur RS Santa Elisabeth Lela Dokter Ignatius Henyo Kerong, Dokter Asep Purnama, Dokter Candida Elisabeth, Dokter Maria Bernadina Sada Nenu, mantan Direktur RSUD TC Hillers Maumere Dokter Benny Eleanor, Dokter Marici Bunga Boro, Dokter Nur Kartika Eka Candra Dewi, dan Dokter Harlin Hutauruk.
Tampak juga Kadis Kesehatan Petrus Herlemus, dan sejumlah pimpinan organisasi profesi kesehatan.
Organisasi profesi kesehatan yang menyatakan sikap bersama menolak pernyataan Dicky Raja yakni Ikatan Dokter Indonesia Sikka, Persatuan Dokter Gigi Indonesia Wilayah NTT, Ikatan Bidan Indonesia Sikka, dan DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia Sikka.
Selanjutnya Pengurus Cabang Persatuan Ahli Farmasi Indonesia Sikka, Persatuan Ahli Gizi Indonesia Sikka, Ikatan Apoteker Indonesia Sikka, Perhimpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia Sikka, dan DPC Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia Sikka.
Ada juga Pengurus Cabang Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia Sikka, Perhimpunan Dokter Umum Indonesia Sikka, dan Persatuan Terapis Gigi dan Mulut Indonesia Sikka.
Unsur lainnya yakni Perhimpunan Radiografer Indonesia Sikka, Ikatan Fisioterapi Indonesia Sikka, Perhimpunan Peofesional Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia Sikka, dan Ikatan Elektromedia Indonesia Sikka.

Sebelumnya pada RDP bersama Satgas Covid Sikka, Dicky Raja mensinyalir Covid di Kabupaten Sikka diproyekkan dan menghabiskan uang rakyat.
Dia juga menduga pihak rumah sakit hanya mengurus Covid karena insentifnya besar.
“Kalau dibandingkan dengan penyakit jantung, hati, ginjal dan usus buntu, kan biayanya kecil. Jadi orang tidak fokus itu. Yang diurus adalah Covid,” ujar dia.
Dia meminta Bupati Sikka dan Sekda Sikka untuk mengevaluasi juga kinerja para dokter dan tenaga kesehatan.*** (eny)



















