

Maumere-SuaraSikka.com: Alokasi anggaran yang mengejutkan di Kabupaten Sikka terjadi pada pos Belanja Tidak Terduga (BTT). Pos ini mengalami kenaikan drastis sebesar 247,95 persen.
Pada APBD 2021, BTT dianggarkan sebesar Rp 5.355.673.480. Namun pada Perubahan APBD 2021 yang baru diajukan Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo pada Senin (1/11) lalu, BTT dianggarkan sebesar Rp 18.634.884.635,16, atau bertambah Rp 13.279.211.155,16.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Peningkatan target BTT yang sangat drastis ini, memicu reaksi politis dari sejumlah fraksi di DPRD Sikka.
Sekretaris Fraksi Partai Gerindra Sufriyance Merison Botu menyebutkan ketika Kabupaten Sikka dilanda krisis keuangan dan berdampak signifikan pada penurunan target belanja dan pendapatan daerah, justeru BTT mengalami peningkatan target yang sangat drastis.
“Semakin mengejutkan karena alokasi drastis ini rupanya sudah direalisasikan semuanya pada semester pertama tahun anggaran 2021,” ungkap mantan Wakil Ketua DPRD Sikka itu.
Terhadap kenaikan drastis BTT yang mencapai 247,95 persen ini, Fraksi Partai Gerindra meminta pemerintah menjelaskan secara transparan program kegiatan yang sudah direalisasikan dari pos BTT, baik itu bencana alam maupun bencana non alam.
Fraksi PAN menukik kenaikan drastis BTT dengan nominal yang berbeda sebagaimana diajukan Bupati Sikka.
Dari pendalaman Fraksi PAN, kenaikan drastis tersebut terjadi pada tiga kali perubahan APBD yang dilakukan secara sepihak oleh pemerintah, tanpa persetujuan DPRD Sikka.
Sekretaris Fraksi PAN Filario Charles Betrandi menguraikan, perubahan pertama dari semula Rp 5.355.673.480 menjadi Rp 15.365.637.961,50. Kemudian perubahan kedua dari semula Rp 5.355.673.480 menjadi Rp 19.365.673.961,50, dan perubahan ketiga dari Rp 5.355.673.480 menjadi Rp 21.291.909.093,55.
“Mohon penjelasan pemerintah tentang masing-masing perubahan belanja tidak terduga,” ujar dia.
Pada bagian lain, Fraksi Partai Hanura dan Fraksi Partai Nadem mengkritisi kenaikan drastis BTT dengan membandingkan pos lain pada belanja daerah yang cenderung turun di tengah situasi krisis keuangan di daerah ini.
Sekretaris Fraksi Partai Hanura Antonius Bata mempertanyakan mengapa belanja modal cenderung mengalami penurunan atau berkurang setiap tahun, sementara belanja tidak terduga mengalami kenaikan.
Fraksi Partai Nasdem mengapresiasi kerja keras pemerintah menyesuaikan kembali rencana belanja sehubungan dengan kebijakan fiskal secara nasional yang turut berpengaruh terhadap kondisi anggaran di daerah itu.
“Pengurangan, penundaan, pembatalan (anggaran) mewarnai dinamika pengelolaan dan penataan belanja daerah, yang pada akhirnya membuat semua perangkat daerah mengalami kesulitan anggaran termasuk biaya rutin operasional kantor,” ungkap anggota Fraksi Partai Nasdem Fransiskus X Bari.
Namun dalam situasi sulit seperti itu, BTT mengalami kenaikan drastis, padahal, ujar Fransiskus X Bari, sisa waktu pelaksanaan anggaran pada tahun 2021 hanya tinggal 2 bulan saja.
“Lalu untuk apa disediakan anggatan BTT sedemikian banyak?” tanya Fraksi Partai Nasdem.
Dalam catatan media ini, bertambahnya alokasi anggaran BTT pernah menjadi dinamika menarik saat rapat kerja antara Komisi 3 DPRD Sikka dengan BPBD Sikka.*** (eny)















