





Maumere-SuaraSikka.com: Varian Omicron B.1.1.529 yang pertama kali dilaporkan di Afrika Selatan kini telah menyebar ke berbagai negara di dunia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, varian Omicron saat ini telah terdeteksi di 38 negara, termasuk di negara tetangga, yakni Singapura dan Malaysia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Melihat kondisi tersebut, muncul kecurigaan bahwa varian Omicron saat ini sudah menyebar ke Indonesia.
Namun demikian, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan belum mengonfirmasi temuan satu pun kasus infeksi virus corona varian Omicron.
Hal tersebut disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, Sabtu (4/12) lalu.
“Ya (belum ada kasus infeksi Omicron terdeteksi di Indonesia),” kata Nadia, dikutip dari Kompas.com, Selasa (8/12).
Diduga Sudah Masuk Indonesia
Namun demikian, ahli patologi klinis Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Tonang Dwi Ardyanto menduga varian Omicron sudah masuk Indonesia.
“Pendapat saya: sudah. Penyebaran sudah sedemikian luas di banyak negara sejak dari laporan awalnya. Laporan awal itu pun sebenarnya kasusnya sudah terjadi setidaknya 2 pekan sebelumnya,” kata Tonang.
Seperti diketahui, varian Omicron atau B.1.1.529 pertama kali dilaporkan ke WHO dari Afrika Selatan pada 24 November 2021.
Sementara, kasus infeksi B.1.1.529 pertama yang terkonfirmasi diketahui berasal dari spesimen yang dikumpulkan pada 9 Nopember 2021.
Alasan Omricon Sudah Masuk Indonesia
Menurut Tonang, ada beberapa alasan yang membuatnya menduga varian Omicron sudah masuk Indonesia.
Pertama, sebagian besar kasus karena Omicron tanpa atau hanya gejala ringan, seperti juga laporan dari Afrika Selatan dan beberapa negara lain yang sudah melaporkan kasusnya.
Kedua, jumlah tes PCR Indonesia yang masih di bawah ambang, meskipun rata-rata tes dilaporkan antara 180-200 ribu per hari.
“Tapi yang banyak itu tes antigen, sekarang PCR tinggal sekitar 15 persen saja dari total tes. Rata-rata sekitar 30 ribu/hari,” kata Tonang.
“Padahal minimal 39 ribu/hari. Itu minimal. Itu juga dengan syarat merata. Sayangnya, 40-50 persen dari jumlah PCR itu di Jakarta saja. Sisanya dibagi 33 provinsi lainnya,” ujar dia.
Tonang mengatakan, tes antigen memang masih bisa mendeteksi Omicron, karena targetnya protein N, bukan protein S.
“Tapi tes antigen itu baru positif bila viral load tinggi. Kalau sudah menurun, PCR yang tepat untuk mendeteksinya,” kata Tonang.
Dia menjelaskan, walaupun antibodi sedang atau sudah mulai menurun, tapi yang pernah terinfeksi atau tervaksinasi itu masih memiliki sel memori.
Sehingga, ketika terjadi infeksi ulang, maka viral load (jumlah virus yang berhasil menginfeksi) cenderung rendah dan masa bertahannya di dalam saluran napas jauh lebih singkat.
“Maka mudah terjadi terinfeksi, tapi “tidak terdeteksi” pada tes antigen,” jelas dia.
Penjelasan Soal Sequencing
Mengenai sequencing atau sekuensing untuk mendeteksi varian Omicron, Tonang memberikan penjelasan. Dia mengatakan, sekuensing hanya dilakukan, bila ada indikasi awal.
Indikasi pertama adalah jika ditemukan kasus infeksi dengan ct value sangat rendah, yang berarti viral load tinggi.
“Pertama bila didapatkan kasus dengan ct value rendah sekali yang berarti viral load tinggi. Padahal terdeteksinya kasus perlu PCR dan bila terpaksa dengan tes antigen lebih dulu,” kata Tonang.
Indikasi kedua, yakni jika terjadi S gene target failure (SGTF) pada tes deteksi Covid-19 yang memiliiki target gen S.
“Artinya, PCR mendeteksi 2 target gen lain, tapi target S nya justru negatif. Bila ketemu demikian, curiga kuat bahwa virusnya mengalami mutasi. Tidak pasti varian apa, tapi Omicron salah satu kemungkinannya,” jelas Tonang.
Tonang mengatakan saat ini lebih dari 85 persen kit PCR di Indonesia tidak menggunakan gen S sebagai target, mengingat memang rentan bermutasi. Menurut Tonang, yang rata-rata ditargetkan adalah gen N, E, RdRp, Orf1b dan Helicase.
“Jadi dengan menarget selain S, maka justeru kita tetap bisa mendeteksi adanya virus SARS-CoV- 2. Hanya kita tidak tahu apakah itu masih seperti virus awal, atau sudah varian, serta varian mana. Itu yang tidak diketahui kalau tidak dilakukan sekuensing,” jelas dia.
Dia mengatakan, tes PCR yang ada saat ini tetap bisa mendeteksi infeksi virus corona yang disebabkan varian Omicron.
“Tetap terdeteksi, tidak lolos, hanya tidak bisa membedakan apakah itu Omicron atau varian lainnya,” kata Tonang.
Harus Selalu Siap
Tonang mengatakan, penyebaran varian Omicron di berbagai negara dan dugaan bahwa varian ini sudah masuk Indonesia harus disikapi dengan waspada.
“Kita tetap harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Kalaupun benar Omicron sudah ada di Indonesia, atau ternyata belum ada, tetap saja jawabannya satu: harus dicegah penyebarannya,” kata Tonang.
Menurut Tonang, kewaspadaan mesti terus dijaga walaupun sebagian besar kasus Omicron menimbulkan gejala ringan, bahkan sampai saat ini belum ada laporan kematian.
“Walau tentu harus menunggu dulu setidaknya 1-2 minggu ke depan untuk memastikan,” imbuhnya.
Tonang mengatakan, Indonesia harus belajar dari penyebaran varian Delta di Inggris Raya dan Singapura, yang memiliki proporsi kematian rendah meski kasusnya tinggi.
Dia menyebut risiko jumlah kematian akan membesar bila jumlah kasusnya melonjak tinggi, melampaui kemampuan sistem pelayanan kesehatan, seperti terjadi di bulan Juli yang lalu.
Karena itu dia mengingatkan agar tetap melakukan pencegahan, sehingga penyebarannya bisa terkendali.*** (*/eny)

















