




Maumere-SuaraSikka.com: Eksistensi pers di era digital, mendapatkan tantangan serius. Karena itu pers dewasa ini dituntut harus berbeda dari media-media sosial.
Pendapat bernas ini dikedepankan Ketua Fraksi PDIP Stef Sumandi, seorang politisi yang juga gemar mengakrabi dunia jurnalistik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai wakil rakyat Stef Sumandi mengaku patut manyampaikan apresiasi atas kerja-kerja pers dewasa ini dalam menjembatani aspirasi rakyat.
Namun, dia mengingatkan bahwa pers tengah menghadapi tantangan pada era digital dewasa ini.
“Pers dituntut lebih tajam mendidik dengan memberi pencerahan kepada publik. Pers harus bisa membedakan diri dengan media sosial,” ungkap dia.
Stef Sumandi menyinggung proses panjang dan mekanisme munculnya sebuah karya jurnalistik, mulai dari diskusi pada ruang redaksi untuk menentukan tema liputan, mencari sudut pandang peristiwa, reportase dan editing, hingga berita diterbitkan.
Bagi dia, proses kerja ini penuh kehati-hatian. Dalam konteks itulah, kata dia, eksistensi pers sebagai media massa mestinya tidak hanya berperan sebagai penyalur aspirasi, tetapi sejatinya lebih kepada peran mendidik.
“Pengelolaan berita oleh lembaga pers kualitasnya harus jauh berbeda dengan akun media sosial yang dikelola perorangan,” ungkap dia.
Stef Sumandi menambahkan sejauh ini sudah banyak media cetak, media elektronik maupun media online yang hidup dan terus berkembang di Kabupaten Sikka. Dia meyakini kondisi tersebut antara lain karena masyarakat Kabupaten Sikka sudah cerdas berdemokrasi.
“Masyarakat tahu dan sadar, meskipun media-media sosial bisa langsung menyalurkan aspirasi, tetapi justeru kebanyakan mereka memilih menyampaikan aspirasinya melalui media massa,” ujar dia.
Karena itu, dia menyampaikan terima kasih atas segala bentuk kerja keras para jurnalis untuk membangun Kabupaten Sikka.
Dalam konteks Hari Pers Nasional (HPN) ke-76 yang diperingati hari ini, Rabu (9/2), Stef Sumandi menyebut momentum tersebut dirayakan oleh segenap rakyat Indonesia, bukan saja oleh pekerja media.
Dia beralasan karena sejarah memposisikan pers sebagai salah satu pilar demokrasi. Dengan peran itu, pers menjadi civic empowerment, di mana kekuatan pers mampu menyamai tiga pilar demokrasi lainnya untuk menyalurkan suara-suara rakyat terutama suara-suara kaum tak bersuara.*** (eny)















