

Maumere-SuaraSikka.com: Kabupaten Sikka bebas stunting tahun 2022, ternyata hanya lip service semata. Buktinya kasus stunting masih saja ada. Data Pebruari 2022 menunjukkan sebanyak 3.984 kasus.
Kampanye 2022 Sikka bebas stunting disampaikan Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo pada 2 tahun lalu, tepatnya 7 Agustus 2019. Saat itu dia memberikan sambutan pada kegiatan Sosialisasi Generasi Bersih dan Sehat (Genbest) di Aula Hotel Go yang diinisiasi Kementerian Kominfo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk mencapai target 2022 Sikka bebas stunting, Bupati Sikka menyebut lima langkah mendasar, yakni komitmen, kampanye, kompetensi program, akses pangan bergizi, dan monitoring. Dia berharap lagkah-langkah itu harus dilakukan secara serius.
“Kalau Bupati sudah mau, ya jadi. Tapi kalau Bupati ogah-ogahan, ya tidak jadi. Nah Bupati sudah berkomitmen, sekarang tinggal bagaimana kerja bawahan saja. Jangan malu kampanye, ke mana-mana harus bicara tentang stunting,” ujar dia waktu itu
Kala itu Bupati Sikka mengatakan akan menggerakkan pencegahan stunting secara menyeluruh dari tingkat desa. Termasuk akan melibatkan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sikka untuk melakukan kampanye.
Target 2022 Sikka bebas stunting, ternyata berbeda pandangan dari Coltildis Gandut, Ketua Persatuan Ahli Gizi Kabupaten Sikka. Dia menyebut sulit mencapai target tersebut.
“Saya tidak bisa memastikan (2022 bebas stunting), tapi cukup sulit. Untuk 1000 hari petama, pemberian ASI dan pemberian makanan pendamping kadang sangat terkendala karena perilaku. Mengubah perilaku, inilah yang sulit,” terang Coltildis Gandut kala itu kepada sejumlah wartawan di Aula Hotel Go Maumere.
Coltildis Gandut, yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan akhirnya menjadi tumbal. Tidak lama berselang, dia “dilempar” sebagai Kepala Bidang Penganekaragaman Pangan pada Dinas Ketahanan Pangan

Rembuk Stunting
Pernyataan Coltildis Gandut, sebagai orang yang ahli di bidangnya, ternyata tidak salah. Sikka bebas stunting tahun 2022 tidak bisa direalisir.
Prevalensi stunting masih tinggi. Tahun 2020 prevalensi stunting tercatat 19,6 persen, lalu tahun 2021 sebesar 18,2 persen, dan hingga Pebruari 2022 mencapai 17,2 persen.
Data ini menunjukkan prevalensi stunting menurun selama 3 tahun berturut-turut, tapi tidak signifikan.
Menyikapi kasus stunting yang belum sama sekali hilang, Pemkab Sikka kemudian menggelar kegiatan Musrenbang Tematik atau Rembuk Stunting pada Senin (28/3) di Gedung Sikka Convention Center.

Rembuk Stunting ini melibatkan pimpinan organisasi perangkat daerah, camat, kepala desa dan lurah. Bupati Sikka dan Wakil Bupati Sikka Romanus Woga hadir pada kegiatan ini.
Dalam kesempatan membuka kegiatan Rembuk Stunting, Bupati Sikka menyinggung perlu adanya intervensi yang dilakukan secara luar biasa untuk menurunkan angka stunting.
Bupati Sikka memastikan akan melakukan aksi nyata selama 180 hari, terhitung sejak 1 April 2022 mendatang. Aksi nyata yang akan dilakukan yakni pemberian makanan tambahan kepada balita stunting di semua desa dan kelurahan.
“Semua anak harus diberi makan setiap hari berturut-turut. Dengan demikian berat badan mereka akan naik, dan angka stunting pasti turun,” ujar Bupati Sikka.
Aksi nyata ini, kata Bupati Sikka, menjadi tanggung jawab mutlak pimpinan wilayah yakni Camat, Lurah dan Kepala Desa.*** (eny)















