
Maumere-SuaraSikka.com: Usia pembangunan menara lonceng di Kabupaten Sikka sudah memasuki bulan ketujuh pada Jumat (2/9) kemarin. Sejak peletakkan batu pertama pada 2 Pebruari 2022 lalu, progress-nya masih nol persen.
Realitas ini makin menunjukkan bahwa ide pembangunan menara lonceng di Gelora Samador da Cunha Maumere, diduga kuat lahir dari pikiran napsu yang hanya lebih mementingkan pencitraan semata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Forum Kota Maumere Emilianus Yulfrid Naga melalui aksinya di Kantor Bupati Sikka pada Juli 2022 lalu, mempertanyakan mandeknya pembangunan menara lonceng.
Dia menduga kuat rencana pembangunan menara lonceng lebih kepada sebuah pencitraan saja.
Napsu menggebu-gebu membangun menara lonceng senilai Rp 12 miliar, dengan referensi pencitraan, sepertinya tidak diikuti perencanaan yang matang.
Tampak sekali Panitia Pembangunan Menara Lonceng di bawah kendali Sekda Sikka Adrianus Firminus Parera tidak punya konsep membangun.
Panitia Pembangunan hanya mampu membuat konsep peletakkan batu pertama. Setelah itu mereka sendiri blank.
Tidak adanya konsep membangun diduga kuat karena adanya upaya paksa secara gegabah melakukan peletakkan batu pertama demi mendapat simpati dan pujian publik.
Dua hari setelah peletakkan batu pertama, ketika melihat tidak ada tanda-tanda pekerjaan fisik, Sekda Sikka beralasan Panitia Pembangunan sedang konsolidasi penetapan rencana operasional.
Dia tidak bisa memastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk konsolidasi. Ternyata hingga bulan ketujuh, konsolidasi yang dimaksudkan Sekda Sikka, tidak jelas hasilnya.
Alih-alihnya, gagasan pembangunan menara lonceng kini menuai banyak kritikan. Sementara Panitia Pembangunan yang hingga kini tidak jelas struktur dan komposisinya, lebih memilih diam dan terkesan cuci tangan.
Pantauan media ini di lokasi pembangunan menara lonceng, Jumat (2/9), sama sekali tidak ada aktifitas pembangunan. Bahkan material pun tidak ada. Diduga kuat Panitia Pembangunan tidak punya dana.
Padahal, sebagaimana laporan Ketua Panitia Pembangunan, biaya pembangunan bersumber dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten Sikka, Program Corporate Social Responsibility, para donatur, dan masyarakat luas yang dapat menyumbang secara sukarela.*** (eny)















