



Maumere-SuaraSikka.com: Sekretaris Komite Rabies Flores Dokter Asep Purnama mengimbau warga masyarakat Kabupaten Sikka untuk tetap waspada terhadap ancaman rabies. Sepanjang tahun 2022 terdapat lima sampel otak anjing dinyatakan positip rabies.
Secara keseluruhan, dalam rentang Januari hingga September 2022, terdapat 26 sampel otak anjing dari Kabupaten Sikka yang diperiksa pada Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo melalui surat resmi tertanggal 30 September 2022 melansir telah terjadi 5 kasus gigitan, dengan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap spesimen otak yang dinyatakan positip rabies.
Lima sampel positip rabies tersebut terdapat pada 3 desa dan 2 kelurahan yang tersebar pada 4 kecamatan.
Sampel otak anjing yang dinyatakan positip yakni kasus gigitan di Desa Koting D Kecamatan Koting pada 21 Januari 2022, kasus gigitan di Kelurahan Kota Uneng Kecamatan Alok pada 26 Juni 2022, dan kasus gigitan di Kelurahan Kabor Kecamatan Alok pada 25 Agustus 2022.
Lalu kasus gigitan di Desa Wogalirit Kecamatan Doreng pada 10 September 2022, dan kasus gigitan di Desa Nangahale Kecamatan Talibura pada 19 September 2022.
Bupati Sikka mengingatkan bahwa kasus positip rabies dapat meningkat selama kurun waktu 3 tahun terakhir di masa pandemi covid-19 ini.
Sementara itu alokasi vaksin rabies bagi hewan penular rabies masih sangat minim. Media ini mencatat, Dinas Pertanian setempat telah bersurat kepada Dinas Pertanian Propinsi NTT untuk mendapatkan bantian vaksin rabies. Namun hingga kini permohonan bantuan belum bisa direalisasikan.
Menyikapi kondisi rabies yang terus mengancam, Bupati Sikka menginstruksikan untuk melakukan pencegahan meluasnya penyebaran virus rabies.
Setiap warga masyarakat yang memiliki hewan penular rabies, perlu membatasi pergerakan, terutama ternak anjing.
“Ikat atau kandangkan HPR, anjing, kucing, dan monyet. Tidak membawa masuk atau pun keluar anjing, baik antardesa, kecamatan, maupun antarkabupaten,” imbau dia.
Bupati Sikka mengatakan sebagian besar korban gigitan adalah anak-anak. Untuk itu perlu mengedukasi anak-anak agar tidak melakukan provokasi atau mengganggu anjing, seperti makan atau berlari bersama anjing.
Dia menambahkan perlu informasi cepat jika terdapat kasus gigitan atau menemukan HPR yang menunjukkan tanda-tanda rabies berupa perubahan perilaku seperti agresif, menggigit sembarang benda-benda di sekitarnya, keluar air liur yang berlebihan, atau bersembunyi pada tempat gelap.
“Segera lapor kepada aparat desa/kelurahan setempat, petugas kesehatan hewan di Kecamatan terdekat, atau langsung melaporkan ke Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka,” ujar dia.
Pertolongan pertana bagi korban gigitan, yakni segera mencuci luka bekas gigitan dengan sabun pada air mengalir selama 15 menit dan segera membawa korban gigitan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Kepada para camat, kepala desa /lurah, atau pemuka agama, tokoh masyarakat/adat diminta agar aktif menyebarluaskan informasi ini pencegahan menyebarnya kepada masyarakat.
Sebagaimana diketahui, 26 sampel otak anjing yang dikirim ke Laboratorium BBVet Denpasar merupakan 26 kasus gigitan yang tersebar pada 12 kecamatan.
Data menunjukkan 4 sampel otak anjing masing-masing dari Kecamatan Lela dan Alok, lalu masing-masing 3 sampel dari Kecamatan Nita, Koting, dan Kangae.
Selanjutnya 2 sampel masing-masing dari Kecamatan Alok Timur dan Kewapante. Sedangkan 1 sampel masing-masing dari Kecamatan Nele, Alok Barat, Waigete, Doreng, dan Talibura.*** (eny)















