
Maumere-SuaraSikka.com: Kabupaten Sikka sepertinya tidak berdaya menghadapi rabies. Meski sudah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB), kasus rabies makin marak.
Bayangkan, sepanjang tahun 2023, Dinas Pertanian setempat mengirim 49 specimen otak anjing untuk diperiksa Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar Bali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hasilnya, hingga Kamis (6/7), tercatat 36 specimen otak anjing positip rabies, atau setara 74,47 persen.
Kecamatan Kangae mencetak rekor paling tinggi dengan 12 kasus. Sudah 7 desa di Kangae yang dikepung rabies yaitu Langir, Habi, Tanaduen, Watuliwung, Mekendetung, Watumilok, dan Wairkoja.
Terdapat juga 3 specimen otak anjing dari Kangae yang sempat diperiksa di BBVet Denpasar Bali, namun hasilnya negatip yakni 2 dari Langir dan 1 dari Habi.
Menyusul setelah itu Kecamatan Alok Timur dengan 8 kasus positip, tersebar di Desa Lepolima serta Kelurahan Waioti, Wairotang, Kota Baru, dan Beru.
Dua specimen otak anjing dari Wairotang dan Beru sempat juga diperiksa, dengan hasil negatip.
Kecamatan Alok memberi kontribusi 4 kasus positip rabies, tercatat dari Kelurahan Kota Uneng dan Madawat.
Kecamatan Lela, Nele dan Hewokloang menyumbang masing-masing 2 kasus. Sementara Kecamatan Nita, Mego, Waigete, Alok Barat, Kewapante, dan Talibura dengan masing-masing 1 kasus.
Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Sikka menunjukkan sudah 12 kecamatan yang disasar rabies. Kabupaten Sikka sendiri terbagi atas 23 kecamatan. Itu artinya, jika pemerintah daerah setempat tetap tidak berdaya dan lengah, maka serangan rabies bisa terus mengancam warga masyarakat di daerah itu.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka Yohanes Emil Satriawan memastikan sejak akhir Juni lalu, stok vaksin sudah habis. Pihaknya sedang melakukan pengadaan 11.500 dosis, diperkirakan akan tiba Juli ini.*** (eny)















