“Banyak pertimbangan, salah satunya adalah kalau tidak ada Pilkada memang bagus diambil dari putra lokal, karena bisa langsung menguasai dan cepat membangun hubungan dengan masyarakat setempat serta tugas utamanya ialah mempercepat pembangunan-pembangunan di daerah,” ujar Tito.

Menurut Tito, memang lebih efektif bila putra daerah yang menjadi penjabat karena lebih mengetahui permasalahan di daerah. Namun, dengan diselenggarakan Pilkada serentak, dia menilai akan lebih netral bila NTT bukan dipimpin putra daerah.
“Namun kalau daerah yang akan menghadapi Pilkada sesuai pengalaman kami pro dan kontranya tinggi bisa terbawa arus psikologi keluarga, suku, dan lain-lain sehingga bisa netral,” ujar dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tito meyakini Andriko yang lahir di Ponorogo, Jawa Timur, dan bersuku Jawa, mampu memimpin NTT. Salah satu alasannya, Andriko pernah dibesarkan di Ambon, Maluku, yang menjadi bagian dari wilayah timur Indonesia.
“Pak Andriko lahir di Ponorogo tapi besar di Ambon, tugas utama Beliau mendukung pelaksanaan Pilkada,” ujar Tito.
Menurut Tito, Propinsi NTT memiliki banyak persoalan yang terjadi mulai kemiskinan, stunting hingga indeks pembangunan manusia yang masih rendah. Walau todak lama menjabat, Tito berharap Penjabat Gubernur NTT bisa memperhatikan masalah-masalah tersebut.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












