



Maumere-SuaraSikka.com: Gerhana Bulan Total akan terjadi pada Rabu (26/5) malam ini. Masyarakat Indonesia dapat menyaksikan dengan mata telanjang, tanpa perlu alat bantu.
Untuk diketahui, Gerhana Bulan adalah peristiwa terhalangnya cahaya matahari oleh bumi, sehingga tidak semuanya sampai ke bulan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi matahari, bumi, dan bulan ini hanya terjadi pada saat fase purnama dan dapat diprediksi sebelumnya.
Dikutip dari laman resmi BMKG, Gerhana Bulan Total terjadi saat matahari, bumi dan bulan dalam posisi sejajar. Hal ini yang membuat bulan masuk ke umbra bumi.
Akibatnya, saat fase totalitas gerhana terjadi, bulan akan terlihat kemerahan.
Berikut wilayah-wilayah yang dapat melihat Gerhana Bulan Total beserta waktunya, dikutip dari laman resmi LAPAN.
Awal Penumbra
Pukul 15.46:12 WIB/16.46:12 WITA/17.46:12 WIT terjadi di Papua dan Kepulauan Aru.
Awal Sebagian
Pukul 16.44:37 WIB/17.44:37 WITA/18.44:37 WIT terjad di Papua, Papua Barat, Maluku (kecuali kep. Aru), Maluku Utara, Sulawesi Utara, sebagian Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan NTT.
Puncak Gerhana
Pukul 18.18:43 WIB/19.18:43 WITA/20.18:43 WIT terjadi di Seluruh Indonesia kecuali Aceh, Pulau Nias, dan sebagian Sumatera Utara.
Akhir Total
Pukul 18.27:57 WIB/19.27:57 WITA/20.27:57 WIT terjadi di seluruh Indonesia.
Akhir Sebagian
Pukul 19.52:49 WIB/20.52:49 WITA/21.52:49 WIT terjadi di seluruh Indonesia.
Akhir Penumbra
Pukul 20.51:16 WIB/21.51:16 WITA/22.51:16 WIT terjadi di seluruh Indonesia.
Gerhana Bulan Total hari ini menjadi spesial. Dikutip dari laman resmi LAPAN, hal itu disebabkan karena gerhana bulan kali ini beriringan dengan terjadinya Perige.
Perige adalah fenomena ketika bulan berada di jarak terdekatnya dengan bumi.
Puncak terjadinya Gerhana Bulan Total di Indonesia pada pukul 18.18:43 WIB.
Sementara puncak Perige akan terjadi pada pukul 08.57:46 WIB.
Oleh sebab itu, Gerhana Bulan Total kali ini bisa juga disebut dengan Bulan Merah Super, mengingat lebar sudutnya yang lebih besar 13,77% dibandingkan dengan ketika berada di titik terjauhnya (Apoge).
Sedangkan kecerahannya lebih terang 15,6% dibandingkan dengan rata-rata atau 29,1% lebih terang dibandingkan dengan ketika Apoge.
Selain itu, durasi fase total gerhana kali ini cukup singkat, yakni 14 menit 30 detik.
Selain spesial, Gerhana Bulan Total juga bertepatan dengan detik-detik Waisak, yakni pada 15 suklapaksa (paroterang) Waisaka 2565 Era Buddha.
Pada dasarnya, detik-detik Waisak terjadi ketika Purnama Waisak atau disebut juga Waisaka Purnima yang selalu jatuh pada tanggal 15 suklapaksa di bulan Waisaka.
Pada saat bulan purnama, matahari dan bulan akan berada dalam satu garis lurus, sedemikian rupa sehingga cahaya matahari dapat menerangi permukaan bulan secara maksimal dengan bumi berada di antara keduanya.
Jadi, matahari dan bulan membentuk sudut 180° satu sama lain dalam peredarannya.
Saat kedua benda langit tersebut tepat membentuk sudut 180° di hari Waisak dikenal sebagai detik-detik Waisak.
Dengan kata lain, detik-detik Waisak merupakan puncak bulan purnama pada bulan Waisaka menurut penanggalan India yang didasari oleh peredaran Bulan.
Keputusan merayakan Trisuci ini diatur dalam Konferensi World Fellowship of Buddhists (WFB).
Fenomena gerhana bulan total atau bulan merah super akan mempengaruhi ketinggian gelombang laut di sejumlah wilayah di Indonesia sehingga berpotensi terjadi banjir rob.
Kepala Pusat Meteorologi Maritim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Eko Prasetyo mengatakan angin yang berembus konsisten dengan kecepatan cukup tinggi hingga 46 km/jam di beberapa perairan di Indonesia mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang.
“Utamanya di Laut Jawa, Laut Flores, Laut Banda, Laut Arafuru, Perairan barat Sumatera, Perairan selatan Jawa hingga NTT dengan ketinggian gelombang mencapai 3 meter,” kata dia.
Bersamaan dengan itu, kata dia, adanya fenomena Super Blood Moon berpengaruh terhadap kondisi pasang air laut maksimum yang berpotensi menyebabkan banjir pesisir (rob) di beberapa wilayah pesisir Indonesia.
“Di antaranya, Sumatera Utara, Batam, Banten, Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Maluku, Papua,” ujarnya.
Dia mengatakan potensi banjir pesisir (rob) ini berbeda waktu (hari dan jam) di tiap wilayah yang secara umum dapat mengganggu aktivitas keseharian masyarakat di sekitar pelabuhan dan pesisir, seperti aktivitas bongkar muat di pelabuhan, aktivitas di pemukiman pesisir, serta aktivitas tambak garam dan perikanan darat.
“Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan siaga untuk mengantisipasi dampak dari pasang maksimum air laut serta memperhatikan update informasi cuaca maritim dari BMKG melalui, Call Center 021-6546315/18, http://maritim.bmkg.go.id, Follow twitter dan Instagram @BMKGmaritim, atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat,” katanya.
Lokasi dan waktu potensi terjadinya banjir pesisir Sumatera Utara (26 Mei) Batam (26 Mei) Banten (28-30 Mei) Jakarta (28-30 Mei) Jawa Tengah (29-31 Mei) Kalimantan Barat (26 Mei) Sulawesi Utara (26 Mei) Maluku (26 Mei) Papua (26 Mei 2021).*** (*/eny)


















