Maumere-SuaraSikka.com: Warga masyarakat bersama Pemkab Sikka di Propinsi NTT tengah memperjuangkan Frans Seda, salah satu putra terbaik di daerah itu untuk diberikan tanda jasa sebagai Pahlawan Nasional.
Terhadap perjuangan ini Mensos RI Tri Rismaharini merespons positip.
“Nanti akan dibahas oleh Tim,” jawab Mensos RI kepada media ini saat melakukan kunjungan kerja di Maumere, Senin (27/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tim yang dia maksudkan adalah Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP). Tim ini dibentuk dan ditetapkan oleh Kementerian Sosial sesuai kewenangannya.
TP2GP bersifat independen yang beranggotakan paling banyak 13 orang yang terdiri dari praktisi, akademisi, pakar, sejarawan dan instansi terkait.
“Jadi bukan hanya Kementerian Sosial saja. Kami hanya fasilitasi, hanya mengumpulkan data. Ketua tim bukan dari Kemensos,” ujar Mensos Tri Rismaharini.
Mensos menambahkan saat ini masih banyak usulan gelar pahlawan nasional yang belum diproses, baik sejak zaman kerajaan hingga paska kemerdekaan.
Masih Proses di Kupang
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sikka Rudolfus Ali yang dihubungi secara terpisah, memastikan dokumen usulan dan persyaratan sudah diserahkan ke Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD).
“Semua dokumen sudah dikirim ke Kupang, dibawa langsung oleh Philip Gobang, selaku Panitia
Panitia Pengusul Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional,” jelas Rudolfus Ali.
Dia mengatakan saat ini sedang diproses di Kupang. Hanya saja, akunya, dia belum mendapatkan perkembangan informasi, sejauh mana kerja TP2GD.
Menurut dia, jika TP2GD menilai usulan calon Pahlawan Nasional memenuhi kriteria, maka akan diajukan kepada Gubernur NTT untuk mengeluarkan rekomendasi kepada Menteri Sosial RI.
Sementara itu Philip Gobang dalam sebuah kesempatan berada di Maumere, mengatakan Frans Seda layak sebagai pahlawan nasional karena memberikan perjuangan, pengabdian, darmabakti dan karya yang luar biasa kepada bangsa dan negara.
“Semua kita bangga dengan sosok Pa Frans Seda. Beliau layak menjadi pahlawan nasional,” ujar dia.
Philip Gobang menyadari perjuangan menjadikan Frans Seda sebagai pahlawan nasional, bukan sebuah pekerjaan yang mudah.
Karena itu dia memohon dukungan moril dari semua elemen masyarakat di Propinsi NTT.
Sekilas Frans Seda
Franciscus Xaverius Seda dikenal sebagai seorang politikus, menteri, tokoh gereja, pengamat politik, dan pengusaha Indonesia.
Tokoh tiga zaman ini lahir di sebuah kampung kecil di Lekebai Kabupaten Sikka pada 4 Oktober 1926, dan kemudian meninggal pada 31 Desember 2009 di Jakarta.
Pada masa Presiden Soekarno, dia dipercayakan sebagai Menteri Perkebunan RI (1964-1966) pada usia 38 tahun. Selanjutnya menjadi Menteri Pertanian (1966).
Kemudian pada masa Presiden Soeharto, dia memegang jabatan Menteri Keuangan (1966-1968) dalam keadaan keuangan Republik Indonesia di awal Orde Baru yang sangat tidak baik.
Prestasi Frans Seda yang layak diapresiasi pada masa itu adalah Frans Seda mampu membawa ekonomi Indonesia ke arah yang lebih stabil setelah didera inflasi hingga 650%, dan mengarahkan Indonesia kembali dalam pergaulan masyarakat internasional.
Dia juga menerapkan kesatuan penganggaran pemerintah pada Kementerian Keuangan serta menerapkan model anggaran penerimaan dan belanja yang berimbang. Dua hal penting yang hingga kini masih diterapkan dalam dunia keuangan Indonesia.
Inilah yang menurut pendapat Emil Salim, salah satu sahabat dekatnya, adalah tidak berlebihan apabila menyebut Frans Seda sebagai Pahlawan Keuangan Indonesia.
Selanjutnya, Frans Seda dipercaya sebagai Menteri Perhubungan (Pengangkutan, Komunikasi, Pariwisata, 1968-1973).
Saat itu dia merintis penerbangan dan pelayaran perintis di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Indonesia bagian Timur, serta beberapa kawasan wisata unggulan seperti di Nusa Dua, Bali.
Sesudahnya Frans Seda kemudian mendapatkan sederet jabatan di berbagai bidang, seperti Duta Besar RI di Brussels untuk Masyarakat Ekonomi Eropa, Kerajaan Belgia dan Luxemburg (1973-1976); anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia (1976-1978); dan anggota Dewan Penasihat Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia (DP-KTI) di bawah pimpinan Presiden Soeharto kemudian dilanjutkan oleh Presiden BJ Habibie (1996).
Frans Seda pernah menjadi Penasihat Presiden BJ Habibie untuk bidang ekonomi (1998), dan selanjutnya pada tahun 1999 menjadi Penasihat Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri Presiden yang kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia.
Dalam bidang politik, Frans Seda pernah menjadi Ketua Umum Partai Katolik (1961-1968), anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong dan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mewakili golongan Katolik (1960-1964).
Dia juga anggota Dewan Penasehat Partai Demokrasi Indonesia (PDI) sejak 1971, (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), dan selanjutnya sejak 1997 menjadi anggota Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDI Perjuangan.*** (eny)















