Demam Berdarah Mengancam, Hingga Januari Terjadi 19 Kasus
Dibaca 9 kali
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka Maria Bernadina Sada Ninu
Maumere-SuaraSikka.com: Penyakit demam berdarah dengue (DBD) kini mulai mengancam warga masyarakat Kabupaten Sikka Propinsi NTT. Sampai dengan Minggu (20/1), sudah terjadi 19 kasus. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan pola hidup sehat dan mewaspadai kasus DBD.
Kasus-kasus DBD itu terjadi di beberapa kecamatan dalam wilayah Kabupaten Sikka. Data yang dihimpun media ini menyebutkan 19 kasus DBD itu yakni Kecamatan Lela 1 kasus, Alok 3 kasus, Alok Barat 2 kasus, Kewapante 4 kasus, Kangae 4 kasus, Hewokloang 2 kasus, Bola 1 kasus, Waigete 1 kasus, dan Talibura 1 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka Maria Bernadina Sada Nenu mengatakan Kementerian Kesehatan sudah mengeluarkan imbauan ke seluruh daerah untuk siaga DBD. Hal ini karena ditemukannya DBD di berbagai daerah yang dikuatirkan akan menyebar ke seluruh wilayah di Indonesia. Terjadi peningkatan kasus DBD di beberapa daerah seperti Kabupaten Kuala Kapuas Propinsi Kalimantan Tengah, Kabupaten Manggarai Barat Propinsi NTT, juga di Propinsi Sulawesi Utara.
Berdasarkan data dari Direktorat jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit kementerian Kesehatan, disebutkan distribusi penyakit suspek DBD sejak minggu pertama 2019, tertinggi di Propinsi Jawa Timur dengan jumlah suspek DBD 700 orang, diikuti Jawa tengah 512 orang, dan Jawa Barat 401 orang. Suspek DBD artinya belum tentu positip kasus DBD, namun sudah harus menjadi kewaspadaan oleh masyarakat dan pemerintah.
“Karena itu masyarakat diminta untuk tetap waspada, sementara pemerintah daerah melakukan upaya pencegahan,” jelas dia di Maumere, Minggu (20/1).
Untuk mengantisipasi peningkatan kasus DBD di Kabupaten Sikka, Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka telah melakukan langkah-langkah taktis strategis. Antara lain yakni Bupati Sikka telah mengeluarkan surat edaran kepada para camat untuk melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan pola 4M yaitu menutup, mengubur, menguras, dan memantau.
Dinas Kesehatan juga telah menggelar rapat koordinasi bersama Camat Alok, Alok Timur, Alok Barat, Kangae dan Kewapante, serta para Kepala Puskesmas, petugas sanitasi Puskesmas untuk mengambil langkah-langkah strategis.
Selain itu, Tim Dinas Kesehatan bersama Tim Kecamatan dan Puskesmas, juga sudah turun ke desa/kelurahan yang mengalami kasus DBD terbanyak. Langkah lain yang dilakukan yakni membagikan abate kepada masyarakat, serta meningkatkan promosi kesehatan melalui media, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan aparatur sipil negara.*** (eny)