Konkrite Usung Kehidupan Nelayan Tradisionil

1
231
Konkrite Usung Kehidupan Nelayan Tradisionil
Komunitas Kreatif Kojagete (Konkrit) memamerkan sejumlah hasil karya mereka pada Bursa Inovasi Desa di halaman Gedung SCC, Kamis (11/10)
Maumere-SuaraSikka.com: Sejumlah anak muda dari Desa Kojagete Kecamatan Alok Timur, tidak mau kalah bersaing dalam urusan kreatifitas dan inovasi. Mereka tergabung dalam wadah yang diberi nama Konkrite (Komunitas Kreatif Kojagate). Hasil kreatifitas mereka sebagian besar mengusung tema kehidupan nelayan tradisionil.
Tema ini bukanlah sesuatu yang asing  buat mereka. Maklumlah, karena hampir semua anggota Konkrite merupakan anak-anak nelayan, bahkan di antara mereka ada yang berprofesi sebagai nelayan. Mengungkap realitas hidup keseharian, itulah alasan Konkrite mengangkat tema seperti itu.
Seperti yang terlihat pada Bursa Inovasi Desa (BID) yang baru-baru digelar di halaman Sikka Convention Center (SCC), Kamis (11/10). Hardiyah sebagai Ketua Konkrite bersama anggota tampak sibuk menata beberapa hasil kreatifitias. Mereka memajang karya-karya seni mereka di atas sebuah meja.
Karya-karya Konkrite dibuat dalam bentuk miniatur, seperti speedboat, kapal rakyat, dan rumah panggung. Semua bahan dasar adalah bahan-bahan lokal dari bambu dan batang kelapa. Ada juga asesoris lain yang mana mereka memanfaatkan barang-barang sisa yang tidak terpakai, seperti sendok es krim yang terbuat dari kayu.
Tidak gampang menghasilkan karya-karya seni seperti itu. Untuk sebuah speedboat, Hardiyah membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu. Itu pun kalau setiap hari dia tekun mengerjakannya. Terkadang, dia juga harus melakukan aktifitas lain.
Speedboat miniatur, kapal rakyat miniatur, dan rumah panggung miniatur, setidaknya telah mewakili Konkrite untuk menyampaikan pesan tentang bagaimana suka duka kehidupan nelayan tradisionil. Mereka mengungkapkannya itu secara artistik, sesuai kemampuan dan bakat seni yang mereka miliki.
Konkrite sudah berkarya sejak tahun 2007. Sudah banyak karya miniatur yang mereka hasilkan. Ada yang menjadi pajangan rumah, namun tidak sedikit juga yang telah menghasilkan pendapatan. Meskipun jatuh bangun dengan pemasaran yang tidak jelas, Konkrite tidak pernah putus asa. Mereka terus berkarya, menghasilkan sesuatu bernilai jual dari bahan-bahan lokal yang sederhana.
Eksistensi Konkrite dan keunikannya telah mendorong Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka melirik Desa Kojagete. Desa ini pun masuk dalam nominasi desa kreatif. Tak pelak, baru-baru ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka mengirim Konkrite mengikuti pameran di Denpasar Bali.
Konkrite memiliki beberapa jejaring pemasaran. Sementara ini mereka melakukan kerja sama dengan Sea World Club (SWC). Banyak turis yang datang ke Kojagete, antara lain juga karena untuk mendapatkan hasil-hasil karya kreatifitias Konkrite.
Hardiyah dan kawan-kawan berniat untuk terus berkreasi dan berinovasi. Mereka berharap bisa mendapatkan perhatian dari desa, setidaknya untuk memanfaatkan dana desa. Begitu pun mereka berpesan agar pemerintah kabupaten mampu mencarikan peluang pasar sehingga hasil kreatifitas dan inovasi warga masyarakat bisa bernilai jual.*** (eny)

KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini