Bupati Sikka Siapkan Lahan 1.000 Hektare untuk Sengonisasi
Dibaca 16 kali
Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo sedang berbicara pada Seminar Prospek Pengembangan Bisnis Sengon, Kamis (8/11), di Gedung SCC Maumere
Maumere-SuaraSikka.com: Gerakan sengonisasi mulai masuk ke Kabupaten Sikka. Pemerintah setempat menggandeng Puskopdit Swadaya Utama Maumere. Bahkan Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo alias Robby Idong berjanji akan menyiapkan lahan seluas 1.000 hektare. Di antaranya untuk membangun pabrik pengolahan hasil sengon.
Langkah kemitraan antara pemerintah daerah dan koperasi ini tidak sekedar wacana. Dua lembaga ini mendatangkan Komisaris Utama PT Mustikatama Ahmad Subidio pada Seminar Prospek Pengembangan Bisnis Sengon, Kamis (8/11), di Gedung Sikka Convention Center.
“Kita menyambut baik program ini. Nanti kita siapkan lahan tidur. Kita punya lahan tidur yang banyak,” ujar Robby Idong kepada wartawan.
Menurut Robby Idong lahan tidur yang akan disiapkan pemerintah untuk pengembangan sengonisasi di Kabupaten Sikka tersedia antara lain di beberapa kecamatan seperti kangae, Waigete, Mapitara, dan Alok Barat. Gerakan ini juga akan melibatkan daerah-daerah sekitar seperti Flores Timur dan Lembata.
Selain menyiapkan lahan todur pemerintah juga akan bertindak sebagai fasilitator untuk menyiapkan regulasi. Sementara itu koperasi sebagai mitra akan berperan sebagai manajemen.
Kepada wartawan, Ahmad Subidio menjelaskan sebuah perusahaan sengon membutuhkan 1.000 hektare lahan. Ketersediaan lahan ini sangat penting, sehingga dalam perkembangan tidak terjadi stagnasi. Lahan-lahan di Kabupaten Sikka akan menjadi inti, sedangkan lahan-lahan di daerah sekitar menjadi plasma.
Dia menyebut Kabupaten Sikka sangat cocok mendirikan pabrik sengon. Selain karena lahan tidur yang masih banyak, juga karena daerah ini memiliki berbagai fasilitas pendukung seperti Kantor Pos, Pelabuhan, container, dan juga pasokan listrik. Apalagi, tambahnya, masyarakat Kabupaten Sikka cukup gemar menanam.
Dia menambahkan ada empat komponen penting dalam bisnis sengon, yaitu masyarakat pengusaha, pemerintah daerah, masyarakat pelaku, dan perguruan tinggi sebagai pendamping teknologi.
Menurut dia sengon memiliki banyak manfaat. Untuk jangka pendek, sengon bermanfaat sebagai konservasi lingkungan, dan juga menjadi investasi pendidikan.
“Sengon itu hanya 5-6 tahun harus dipanen. Nah ini kan seusia orang sekolah. Kelas 1 kita tanam, kelas 6 kita panen. Atau di Kelas 1 SMP kita tanam, nanti Kelas 3 SMA kita panen,” ujar dia.
Dalam rencana, nantinya dibangun pabrik sengon di Kabupaten Sikka, yang mana seluruh proses pengolahannya terjadi di daerah ini. Nanti kemudian hasilnya baru dijual ke Pulau Jawa.*** (eny)