Program 100 Hari Roma, Sukses Atau Gagal?
Dibaca 33 kali
Bupati dan Wakil Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo dan Romanus Woga didampingi istri saat pertama kali diterima di DPRD Sikka
Maumere-SuaraSikka.com: Bupati dan Wakil Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo dan Romanus Woga (RoMa) dilantik pada 20 September 2018. Pasca pelantikan, Roma membersitkan Program 100 Hari. Bagaimana capaiannya, apakah sukses atau gagal?
Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Sikka Even Edomeko mengatakan program 100 hari merupakan rencana kerja sementara yang hendak dikerjakan pemerintahan baru dalam 3 bulan pertama. Hal ini dilakukan sambil menanti penyusunan dan sinkronisasi visi, misi, dan program-program utama ke dalam dokumen-dokumen resmi sesuai mekanisme yang digariskan dalam peraturan perundangan seperti RPJMD dan APBD baru.
Dia menegaskan, secara yurudis, tidak ada UU atau peraturan yang menjadi dasar hukum yang mewajibkan sebuah pemerintahan baru menyusun dan melaksanakan program 100 hari. Kebijakan tersebut hanya berdasarkan niat baik pemerintah baru. Apalagi biasanya, tidak ada dana khusus yang disiapkan untuk membiayai program 100 hari.
“Jadi sesungguhnya program 100 hari hanyalah niat baik dari pemimpin baru untuk bekerja, sambil menunggu penyusunan program kerja (RPJMD) dan anggarannya (APBD). Jika gagal tidak masalah, jika sukses itulah kehebatannya,” ujar Even Edomeko di Maumere, Rabu (2/1).
Even Edomeko mengatakan RoMa tidak pernah menyampaikan program 100 hari di hadapan Rapat Paripurna DPRD Sikka atau dituangkan dalam dokumen resmi manapun. DPRD Sikka sendiri tidak pernah membahas anggaran khusus tentangnya.
Progam 100 hari hanya dituturkan secara lisan di beberapa kesempatan, seperti pertemuan terbatas bersama Penjabat Bupati Sikka, dialog interaktif di Radio Suara Sikka FM, konferensi pers bersama wartawan di Hotel Naka Kupang, menjawab pertanyaan wartawan di Maumere pada beberapa kesempatan, dan rapat koordinasi bersama segenap pimpinan organisasi perangkat daerah Kabupaten Sikka.
Rilis Pers
Bagian Humas & Protokol Setda Sikka
Rabu, 2 Januari 2019
Rilis Pers
Bagian Humas & Protokol Setda Sikka
Rabu, 2 Januari 2019P100H Roby-Romanus dituturkan secara lisan di beberapa kesempatan yang
Dari semua penjelasan lisan itu, lanjut Even Edomeko, poin-poin program 100 hari Roma yakni mulai memberikan jaminan kesehatan kepada warga yang belum terjamin, mengupayakan Kota Maumere bebas dari banjir, mengupayakan Kota Maumere bersih dari sampah, menyusun RPJMD 2019-2023, Perubahan APBD 2018, dan Rancangan APBD 2019 secara tepat waktu, taat azas, dan berpihak kepada rakyat.
Even Edomeko menyebut beberapa hasil yang dicapai. Pertama, pada 1 Desember 2018 Pemkab Sikka menambahkan sebanyak 13.905 jiwa peserta penerima bantuan iuran (PBI) APBD Kabupaten Sikka untuk memperoleh jaminan kesehatan atas biaya pemerintah daerah. Hal ini sekaligus menjadikan Kabupaten Sikka memenuhi target Universal Health Coverage (UHC) dari 95% menjadi 96% dari total jumlah penduduk sebesar 317.292 jiwa.
Kedua, Perubahan APBD dan Rancangan APBD 2019 telah dibahas dan disetujui DPRD Sikka. RPJMD 2019-2023 telah selesai dirancang dan siap dibahas bersama DPRD di Januari 2019. Ketiga, untuk mengatasi banjir di dalam Kota Maumere, Pemkab Sikka telah menggusur beberapa titik di kawasan lingkar luar yang menjadi jalan masuk air ke dalam Kota Maumere. Air diarahkan ke kali-kali. Dan Kali Mati telah dibersihkan. Keempat, upaya membersihkan Kota Maumere dari sampah terus-menerus dilaksanakan.
Dia juga menyinggung tentang tantangan, upaya, kendala, dan hasil serta rencana tindak lanjut dalam kaitan dengan masalah banjir dan sampah. Dia mengatakan masih banyak hal yang belum dilakukan dalam upaya memerangi sampah. Persoalan yang paling besar adalah bagaimana memerangi budaya yang buruk. Dan hal itu tidak bisa dilakukan dalam waktu 100 hari kerja.
“Kerja memerangi sampah adalah kerja memerangi budaya. Budaya yang buruk hanya bisa dilawan dengan budaya yang baik. Dan itu butuh waktu lama. Karena sebuah kebudayaan tidak pernah tercipta dalam tempo 100 hari. Ia tumbuh melalui kebiasaan bertahun-tahun hingga menjadi tradisi, kemudian hidup menjadi budaya. Roby-Romanus telah memulainya. Dan itu keunggulan yang tak ternilai,” terang dia.
Karena itu untuk merealisir program 100 hari, Bupati dan Wabup Sikka mengajak kerja sama semua pihak, baik Forkopimda, pimpinan BUMN dan BUMD serta lembaga keuangan seperti koperasi, LSM, para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, komunitas-komunitas masyarakat, dan semua yang berkehendak baik untuk bahu-membahu bekerja sama.*** (eny)