Maumere-SuaraSikka.com: Sejumlah nelayan tampak bercengkerama santai di Pantai Nangahure Lembah di Kelurahan Wuring Kecamatan Alok Barat Kabupaten Sikka Propinsi NTT, Kamis (3/1). Tidak ada aktifitas serius. Mereka sedang enggan melaut sejak pertengahan Desember 2018 lalu, akibat cuaca ekstrim.
Setiap saat mereka ke pantai untuk memeriksa kondisi perahu motor yang selama ini menjadi media pencarian nafkah. Ratusan perahu motor tampak parkir rapi berjejer di bibir pantai. Tidak ada kolam labuh atau pun tambatan perahu di perairan ini.
Amri Heri salah seorang nelayan mengaku sudah tiga minggu tidak melaut. Dia dan kawan-kawan nelayan memilih untuk beristirahat sementara sambil menunggu cuaca normal kembali. Dia memperkirakan akhir Pebruari ini cuaca sudah mulai membaik, dan saatnya mereka melakukan aktifitas melaut sebagaimana biasanya.
Dalam kondisi seperti ini, kata dia, praktis nelayan tradisionil tidak akan mendapatkan pendapatan. Sementara hampir setiap hari, mereka mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Situasi ini, tambahnya, membuat mereka harus pintar-pintar megelola keuangan sehinggga bisa mengatasi keadaan apa pun.
“Bulan Juli sampai Oktober biasanya kami mendapatkan banyak uang, sekali melaut bisa dapat Rp 4 juta. Nah sekarang kebalikan. Yah begitulah hidup di laut, ada pasang naiknya, ada pasang surutnya,” ujar pemilik dua perahu motor yang diberi nama Alfarizi dan Kerinduan.
Dia menambahkan beberapa nelayan yang dalam kondisi terpaksa, kadang-kadang nekad melaut meski cuaca ekstrim. Itu pun harus dengan penuh perhitungan karena risikonya terlalu tinggi. Tidak jarang ada yang harus kembali dengan tangan kosong karena memang laut belum bersahabat.
Pata Ali, seorang nelayan lain, nelayan sudah terbiasa menghadapi musim seperti ini. Karena itu tidak heran banyak nelayan yang menganggur atau mencari kerja sampingan untuk mengisi waktu. Dia sendiri mengaku memilih istirahat sambil membetulkan perahu motor.
“Yah begini sudah, tidak ada pemasukan. Sekarang tinggal mengatur keuangan secara baik supaya dapur tetap berasap,” ujarnya tersenyum.
Amri Heri, Pata Ali dan beberapa nelayan yang lain setiap hari memeriksa perahu motor mereka yang parkir di bibir pantai. Mereka kuatir hempasan gelombang juteru membuat perahu mereka menjadi rusak. Buat mereka, perahu motor akan menjadi nyaman jika diistirahatkan pada kolam labuh atau tambatan perahu. Karena itu mereka berharap ada perhatian pemerintah untuk membangun kolam labuh di tempat itu.
“Sudah lama kami meminta kepada pemerintah untuk membangun kolam labuh di sini. Tapi sekarang belum ditanggapi juga. Ini kesempatan kami minta lagi, siapa tahu pemerintahan yang baru bisa mewujudkannya,” tukas Amri Heri.
Para nelayan ini mengaku akan sangat berterimakasih sekali jika pemerintah membangun kolam labuh. Dalam nada canda mereka justeru berharap Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo datang berkunjung dan berdialog dengan mereka.*** (ven)