Kasus Gunting Rambut Guru, Lemahnya Komunikasi Sekolah, Komite, dan Orang Tua

0
80
Kasus Gunting Rambut Guru, Lemahnya Komunikasi Sekolah, Komite, dan Orang Tua
Anggota Komisi 3 DPRD Sikka Stefanus Sumandi
Maumere-SuaraSikka.com: Kasus orang tua murid menggunting rambut guru di SDI Madawat Maumere Kabupaten Sikka Propinsi NTT, mengundang beragam pendapat. Salah satunya adalah sorotan akan lemahnya komunikasi antara sekolah, komite sekolah, dan orang tua atau wali murid.
Stefanus Sumandi, angota Komisi 3 DPRD Sikka yang membidangi pendidikan, berpendapat kalau saja ada komunikasi yang positif antara sekolah, komite sekolah dan orang tua/wali murid, persoalan-persoalan seperti itu tidak perlu terjadi. Komunikasi antara para pihak akan sangat membantu kegiatan pendidikan pada sebuah lembaga pendidikan.
Dia mengatakan setiap aturan yang dibuat oleh sekolah, idealnya disosialisasikan kepada orang tua wali murid. Dengan demikian, orang tua wali murid mengetahui secara persis peraturan-peraturan di sekolah tersebut. Sebaliknya, jika ada peraturan yang belum disosialisasikan, maka orang tua wajib bertanya kepada pihak sekolah, apalagi jika anak murid mendapat sanksi dari guru atau sekolah.
“Saya kira ini akibat dari miskomunikasi. Karena itu harus dibangun komunikasi yang baik antara sekolah, komite sekolah, dan orang tua murid. Jangan mengambil sikap secara sendiri-sendiri,” ujar mantan guru tersebut.
Meski demikian Stef Sumandi menyesalkan sikap yang dilakukan orang tua murid yang menggunting rambut guru. Menurut dia, dalam kondisi emosional atau apapun, tindakan orang tua itu sangat tidak dibenarkan.
Politisi PDI Perjuangan itu menambahkan kasus ini tidak perlu harus disesaikan melalui proses hukum. Dia menyarankan agar masalah ini bisa difasilitasi dengan proses damai. Menurut dia, ada hal yang lebih bermakna jika penyelesaian secara damai.
“Dalam konteks pendidikan, maka sudah seharusnya sekolah, komite sekolah dan orang tua murid memberikan nilai kepada anak-anak. Salah satu bentuk pendidikan nilai yaitu dengan jalan damai. Setiap orang boleh rela berkorban, meskipun ada pihak yang merasa dirugikan. Nah bentuk pengorbanan diri inilah yang haris diwariskan kepada anak-anak,” ujar dia.
Hal lain yang menjadi persoalan dari kasus ini, yakni akses yang begitu sangat terbuka, sehingga orang tua bisa dengan gampang masuk ke dalam ruangan kelas. Stef Sumandi meminta perhatian sekolah dan pemerintah setempat untuk memikirkan kenyamanan kegiatan belajar mengajar di sekolah itu. Setidaknya di sekolah itu harus dilengkapi dengan pagar, termasuk petugas keamanan sekolah yang bisa bertanggungjawab terhadap situasi dan kondisi di sekolah.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini