Kontroversi Pasar Pagi Terbatas dan Kebijakan ACF
Dibaca 25 kali
Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo
Maumere-SuaraSikka.com: Satu minggu setelah dilantik, tepatnya 28 September 2018, Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo atau Robby Idong memberlakukan pasar pagi terbatas di kompleks TPI Alok. Setelah berjalan 9 bulan, kebijakan tersebut akan dicabut kembali. Rencananya per 1 Juli 2019 para pedagang akan direlokasi ke Pasar Alok dan Pasar Tingkat.
Sejak launching pasar pagi terbatas, kebijakan ini menuai beragam pendapat. Para pedagang yang sependapat dengan kebijakan ini tidak sia-siakan kesempatan. Setiap hari dari jam 05.00 Wita sampai 08.00 Wita, mereka menggelar dagangan dari kompleks TPI Alok hingga pusat-pusat pertokoan di sekitarnya. Sedangkan para pedagang lain tetap bertahan di Pasar Alok dan Pasar Tingkat.
Pro kontra ini pun melebar. Para pedagang di Pasar Alok turun ke jalan, melakukan aksi protes. Beberapa kali mereka demonstrasi ke DPRD Sikka. Di waktu lain mereka berunjukrasa ke Kantor Bupati Sikka sambil membawa dagangan yang tidak terjual seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Mereka melampiaskan kemarahan terhadap kebijakan pasar pagi terbatas yang berdampak kepada sepinya pengunjung dan minimnya pendapatan.
Pasar pagi terbatas kian menguatkan kontroversi ketika kebijakan ini menjadi persoalan serius bagi kalangan wakil rakyat. Di tengah hubungan yang tidak harmonis antara Bupati Sikka dan DPRD Sikka, pasar pagi terbatas menjadi salah satu ruang bagi sejumlah anggota DPRD Sikka yang sedang melancarkan hak interpelasi kepada Bupati Sikka. Namun belakangan gaung hak interpelasi ini mulai redup.
Aktifitas pasar pagi terbatas bakal berhenti pada 1 Juli 2019. Pemerintah akan menutup lokasi pasar pagi terbatas, memenuhi permintaan komunitas masyarakat pasar melalui Forum Komunikasi Pedagang Pasar (FKPP). Kebijakan terbaru ini pun melahirkan pendapat miring tentang gaya kepemimpinan Bupati Sikka.
Robby Idong menepisnya sederhana. Dia menjelaskan sejak launching pasar pagi terbatas, dia mengatakan kebijakan tersebut akan terus menerus dievaluasi untuk mendapatkan sebuah format yang baik dan berguna bagi kepentingan masyarakat.
Ternyata Robby Idong sedang menerapkan model kebijakan advocation, coalition, frame work (ACF). Model kebijakan ini pernah dia belajar sewaktu kuliah.
“Jadi ini sebenarnya yang saya mau terapkan. Hari ini baru saya buka. Ini model kebijakan advocation, coalition, frame work, pernah saya belajar waktu kuliah S2. Saya praktikkan dan hampir berhasil,” ujar dia.
Dia mengatakan aktifitas pasar di TPI Alok selalu menjadi konflik antara pemerintah dan masyarakat pasar. Kondisi tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun. Setiap kali pemerintah menindak, masyarakat tetap saja melakukan aktifitas.
Belajar dari kondisi itu, Robby Idong pun mengikuti arus kemauan masyarakat. Pemerintah membiarkan terjadinya aktifitas pasar di TPI Alok dengan menerapkan kebijakan pasar pagi terbatas. Sambil itu pemerintah terus memantau dengan melakukan identifikasi konflik yang terjadi di tengah dinamika itu. Lalu pemerintah juga membentuk forum pasar untuk bisa saling berkomunikasi secara lebih terarah.
“Identifikasi konflik lebih lengkap, lalu kita bentuk forum pasar. Jadi masalah ini menjadi milik mereka, bukan milik pemerntah. Kemudian mereka secara mandiri menyelesaikan. Forum sudah melakukan rapat beberapa kali, dan mereka putuskan supaya lebih aman tenteram mereka harus pindah dari situ. Bukan pemerintah yang memerintahkan pindah. Komunitas pasar sendiri yang meminta,” terang Robby Idong.
Kini menyongsong relokasi yang dijadwalkan 1 Juli 2019, pemerintah tengah menyiapkan sarana dan fasilitas dasar di Pasar Alok dan Pasar Tingkat. Dengan demikian pedagang dari pasar pagi terbatas bisa mendapatkan tempat yang nyaman dan layak untuk berdagang.*** (eny)