Pemudik berdesakan di atas kapal kayu yang hendak meunju wilayah kepulauan Kabupaten Sikka, Kamis (30/5)
Maumere-SuaraSikka.com: Arus mudik di wilayah Kabupaten Sikka Propinsi NTT mulai terasa meningkat, terutama pulang kampung ke wilayah kepulauan. Pemudik pun rela berdesakan di atas kapal kayu. Penumpang membludak dan tanpa sarana keselamatan. Risiko kecelakaan benar-benar diabaikan.
Seperti yang terlihat di Pelabuhan Tempat Pendaratan Ikan di wilayah Kelurahan Kota Baru Kecamatan Alok Timur, Kamis (30/5). Ratusan warga dari Kota Maumere hendak mudik ke beberapa desa di wilayah kepulauan seperti Desa Kojadoi, Kojagete, dan Pemana. Mereka menumpang pada kapal motor tradisionil yang terbuat dari kayu.
Kapal kayu ini berukuran kecil dengan kapasitas penumpang maksimal 20 orang, dan tidak dilengkapi sarana keselamatan berlayar seperti pelampung. Namun akibat minimnya sarana transportasi laut, membuat para pemudik tidak punya pilihan lain. Meski sadar akan risiko kecelakaan saat berlayar, mereka mengabaikan saja.
Inilah kapal kayu yang digunakan pemudik yang hendak pulang kampung ke wilayah kepulauan Kabupaten Sikka
“Tidak apa-apa, saya sudah biasa berlayar. Kalau tidak berangkat sekarang, berarti harus menunggu jadwal kapal minggu depan lagi. Kan jadwalnya satu kali dalam seminggu,” ujar seorang ibu yang enggan menyebutkan namanya.
Sama seperti penumpang yang lain, ibu yang hendak mudik ke Desa Kojadoi ini, tidak berangkat sendirian. Dia membawa serta banyak barang, selain keperluan pribadi, juga kebutuhan untuk merayakan Idul Fitri. Beban kapal pun bertambah berat dengan banyaknya barang yang dibawa para pemudik.
Pelayaran menembus Laut Flores hingga ke wilayah kepulauan diperkirakan menempuh waktu sekitar 1-2 jam. Laut Flores hari itu dalam keadaan tenang, dan kondisi ini yang membuat para pemudik nekad berdesak-desakan di atas kapal kayu, tanpa memikirkan risiko.
Pantauan media ini, para pemudik sebagan besar anak sekolah yang sedang memasuki musim liburan. Mereka tampak bahagia dan gembira karena akan merayakan Idul Fitri di kampung halaman. Sementara itu tidak terlihat petugas pada otoritas pelabuhan yang memantau aktifitas pelayaran yang berisiko tersebut.*** (eny)