“Saya dulu tidak peduli dengan kondisi badan saya, sampai saya merasa cepat lelah padahal tidak melakukan aktifitas yang berat. Badan saya semakin gemuk dan bengkak. Waktu itu dokter merujuk ke rumah sakit untuk dioperasi di bahu dan menjalani cuci darah. Saya setuju waktu itu karena berpikir yang penting saya sehat,” cerita Fenta.
Fenta mengaku tidak pernah menduga dirinya harus menjalani cuci darah. Pasalnya, sejak merasakan sakit, Fenta hanya berobat di fasilitas kesehatan yang dekat dengan tempat tinggal di Kalimantan. Lalu dokter merujuk ke rumah sakit yang lebih besar di Banjarmasin.
Fenta mengatakan sepanjang pengobatan melalui Program JKN dia merasa sangat dipermudah, jika dibandingkan sewaktu membayar sendiri. Hal inilah yang menjadikan Fenta merasa terharu, sebab keberadaan Program JKN dapat meringankan biaya pengobatannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketika hendak kembali ke Maumere, Fenta sempat berkonsultasi dengan dokter yang merawatnya. Dokter sempat bertanya soal rumah sakit yang mendukung pengobatan dirinya. Beruntung, kata dia, di Maumere ada RSUD TC Hillers yang sudah ada poli hemodilaisis. Akhirnya dia dirujuk ke RSUD TC Hillers.
Tidak berhenti sampai di situ, perjuangan Fenta diuji ketika suami yang saat itu sebagai tulang punggung keluarga meninggal dunia. Fenta pun tidak mampu lagi membayar secara mandiri iuran JKN.
Dia lalu mendatangi Kantor BPJS Kesehatan Cabang Maumere di Jalan Wairklau. Petugas mengarahkan agar konsultasi ke Dinas Sosial. Akhirnya kepesertaan JKN Fenta pun dialihkan setelah pemerintah mendaftarkannya menjadi peserta JKN segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI).
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












