“Sudah bertahun-tahun saya kontrak rumah demi anak bisa lancar cuci darah. Ini sangat memberatkan sekali. Tetapi mau bagaimana lagi,” ujar dia pasrah.
Arnoldus Hurint menyebut 4 pos pembiayaan yang sangat memberatkan bagi dirinya selama 7 tahun di Maumere, yakni membayar kontrakan, belanja obat-obatan di luar tanggungan BPJS Kesehatan, kebutuhan makan minum, dan biaya transportasi pulang pergi dari kontrakan ke Unit Hemodialisis. Beruntung, kata dia, biaya cuci darah sudah ditanggung negara melalui Program Jaminan Keaehatan Nasional (JKN).

Anastasia Ale Kewuan mengeluhkan hal yang sama. Setiap bulan dia wajib membayar kontrak kamar seharga Rp 350.000. Sekarang harga kontrak turun menjadi Rp 250.000 perbulan karena Anastasia Ale Kewuan sekaligus membantu kerja di rumah pemilik kamar yang dikontrak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama 4 tahun 5 bulan tinggalkan kampung halaman demi kesehatan suami, Anastasia Ale Kewuan mengaku membiarkan 3 anaknya menjaga rumah. Tragisnya, 3 anak tersebut sudah tidak bersekolah karena tidak ada biaya pendidikan.
“Saya urus suami di sini, praktis tidak ada pendapatan, akibatnya anak-anak jadi korban, kasihan sekali mereka semua sudah tidak sekolah,” ujar dia.
Anastasia Ale Kewuan kini sedang berupaya mencari kerja agar memiliki pendapatan untuk membiayai kehidupan dia dan suaminya selama berada di Maumere, termasuk untuk anak-anaknya. Perempuan ini mengaku siap bekerja apa saja demi bisa bertahan hidup.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












