Para nelayan Desa Watudiran sedang membuat rumpon, Rabu (29/5)
Maumere-SuaraSikka.com: Desa Watudiran di Kecamatan Waigeta Kabupaten Sikka, kurang lebih 50 kilometer dari Kota Maumere, berada di pesisir pantai selatan. Sebagian besar masyarakat di desa ini hidup dari melaut. Pantai selatan Pulau Flores merupakan salah satu wilayah penghasil ikan yang mampu bersaing di pasaran nasional maupun internasional. Salah satunya adalah ikan tuna.
Untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan, masyarakat nelayan di desa ini pun mulai melatih membuat rumpon. Pelatihan selama dua hari, Selasa-Rabu (26-29/5), diinisiasi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan daerah setempat. DKP melibatkan tujuh kelompok nelayan yang mengandalkan laut sebagai potensi dalam peningkatan pendapatan.
Para nelayan sangat antusias mengikuti sejumlah materi yang disajikan instruktur. Ada berbagai materi dasar seperti pengenalan bahan-bahan rumpon dangkal dan rumpon dalam. Lalu kemudian instruktur membagikan imu tentang bagaimana merakit dan menganyam rumpon hingga proses pelepasan rumpon ke laut.
Setelah pembekalan materi, para nelayan dibantu instruktur lalu merakit dan menganyam rumpon dangkal. Proses ini dilakukan secara serius sehingga menghasilkan rumpon yang berkualitas. Usai itu mereka beramai-ramai melepas rumpon ke laut.
Nelayan melepas rumpon ke laut
Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Sikka Arkadius Senalis Bella mengatakan pantai selatan di wilayah Kabupaten Sikka sangat menjajikan. Karena itu DKP Sikka mendukung penuh aktifitas nelayan dengan mengoptimalkan kemampuan sumber daya manusia para nelayan. Salah satu bentuk dukungan yakni melalui pelatihan pembuatan rumpon dangkal.
“Ke depan, willayah pesisir pantai selatan Kabupaten Sikka menjadi prioritas pengembangan hasil tangkap perikanan. Untuk itu dinas perlu membekali para nelayan dengan meningkatkan sumber daya manusia melalui pelatihan dan juga akan memberikan sarana dan prasarana pengkapan. Sehingga bisa meningkatkan ekonomi warga pesisir terutama para nelayan,” ujar dia.
Arkadius Senalis Bella mengingatkan para nelayan untuk tidak saja mengikuti pelatihan dan pelepasan rumpon ke laut. Hal lain yang sangat penting yakni bagaimana para nelayan berkewajiban meningkatkan pengawasan akan keberadaan rumpon, sehingga tidak dirusaki atau dipotong oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.
Ketua Kelompok Nelayan De’a Horon Dusun Kilawair Desa Watudiran Petrus Parera menceritakan selama ini nelayan Watudiran melakukan aktifitas penangkapan ikan di laut dengan menggunakan alat tangkap secara tradisional milik perorangan. Akibatnya hasil tangkapan ikan pun sangat minim, dan biasanya hanya digunakan untuk konsumsi sehari-hari.
“Kami punya kelompok nelayan, tapi kekurangan sarana dan prasarana. Misalnya pukat, yah hanya satu dua orang saja yang punya. Jadi biasanya di sini kami menangkap ikan dengan pola tradisionil saja,” ungkap Petrus Parera.
Petrus Parera mengaku senang dengan kegiatan pembekalan yang diberikan DKP Sikka. Dia berharap pemerintah terus memberikan perhatian serius kepada nelayan dan kelompok-kelompok nelayan. Selain pembekalan, dia meminta agar pemerintah melalui DKP Sikka memberikan bantuan sarana dan prasarana penangkapan ikan sehingga hasil tangkapan ikan dapat dijual untuk meningkatkan pendapatan.
Sebagaimana diketahui Kabupaten Sikka memiliki luas wilayah 7.552,91 kilomeer persegi, terdiri dari luas daratan 1.731,91 kilometer persegi dan luas lautan 5.821 kilometer persegi. Selain pertanian, perdagangan, dan perkebunan, sebagan besar masyarakat Kabupaten Sikka juga hidup sebagai nelayan.*** (eny)