Seorang anak kecil yang hendak mudik ke Desa Kojadoi, Senin (3/6), terpaksa berjongkok di atas jembatan darurat untuk menuju ke kapal motor penumpang
Maumere-SuaraSikka.com: Dua hari menjelang Idul Fitri, Senin (3/6), ratusan warga Desa Kojadoi Kecamatan Alok Timur Kabupaten Sikka Propinsi NTT ramai-ramai mudik melalui Pelabuhan Laurensius Say Maumere. Mereka pun harus berjuang ekstra agar bisa merayakan hari kemenangan di kampung halaman.
Pantauan media ini di Pelabuhan Laurensius Say, ada dua buah kapal motor tradisionil yang bersandar di dermaga dekat bangunan Terminal Penumpang, atau persisnya di ujung timur kawasan Pelabuhan Laurensius Say. Satu buah kapal dengan tujuan Desa Kojagete, sedangkan satu buah kapal lagi dengan tujuan Desa Kojadoi.
Dua kapal ini sengaja bersandar di situ karena tinggi bodi kapal persis sejajar dengan tembok penahan gelombang. Nahkoda menyandarkan bagian belakang kapal, tapi tidak bisa langsung mendekat ke tembok penahan gelombang, karena perairan di bagian itu agak dangkal.
Posisi sandar kapal ini mengakibatkan pemudik yang hendak ke Kojadoi kesulitan naik ke atas kapal. Awak kapal lalu menyiasati membuat jembatan darurat dengan menggunakan sebuah tangga. Jembatan darurat itu dibentangkan secara manual dari punggung belakang kapal ke tembok penahan gelombang.
Pemudik Kojadoi melewati jembatan darurat di Pelabuhan laurensius Say Maumere, Senin (3/6)
Para penumpang yang hendak ke atas kapal harus melewati jembatan darurat tersebut. Meski sudah ada jembatan darurat, alternatif itu belum membuat nyaman penumpang. Hempasan gelombang yang besar saat itu bisa mementalkan posisi jembatan darurat. Kondisi ini cukup mengganggu alur penyeberangan melalui jembatan darurat.
Para penumpang yang hendak naik ke atas kapal, sangat hati-hati melewati jembatan darurat, agar tidak terpeleset dan terjatuh ke kaut. Ada yang terpaksa mengulurkan tangan, meminta bantuan awak kapal yang berdiri di atas kapal. Beberapa anak kecil usia pelajar sekolah dasar, terpaksa melewati jembatan darurat dengan cara berjongkok.
Penyeberangan dengan menggunakan jembatan darurat sebenarnya bisa terhindarkan jika kapal-kapal motor tradisionil semacam ini bersandar pada dermaga yang lebih menjamin keselamatan. Namun sudah menjadi hal yang biasa, kapal-kapal penumpang tujuan Kojadoi, Kojagete, termasuk ke Kecmatan PaluE lebih senang bersandar di tempat itu.
Kapal tanpa nama tujuan Kojadoi ini akhirnya berangkat sekitar pukul 14.30 Wita. Kapal ini mengangkut hampir 100 orang penumpang, yang didominasi ibu-ibu, para pelajar dan mahasiswa. Jumlah penumpang ini melebihi kapasitas jika dibandingkan dengan ukuran kapal yang secara normal hanya boleh mengangkut 50-60 penumpang.*** (eny)