Cocoa Nul, Coklat Asli dari Wolonwalu

0
155
Cocoa Nul, Coklat Asli dari Wolonwalu
Minsia (baju merah) sedang memperomosikan Cocoa Nul, bubuk coklat asli dari Desa Wolonwalu pada bursa inovasi desa, Kamis (11/10) di halaman Sikka Convention Center
Maumere-SuaraSikka.com: Minsia, perempuan berusia 50 tahun itu, menceritakan lugas. Dia mengisahkan bagaimana dia bersama kelompok tani menghasilkan produk yang boleh dibilang luar biasa. Produk itu mereka namakan Cocoa Nul. Dan yang membuat mereka berbangga, Cocoa Nul merupakan coklat asli dari Wolonwalu.
Wolonwalu adalah satu dari tujuh desa di Kecamatan Bola Kabupaten Sikka Propinsi NTT. Desa ini letaknya tidak jauh dari pantai selatan. Sebagan besar penduduk bermatapencaharian petani. Salah satu produk unggulan adalah tanaman kakao.
Cocoa Nul memiliki arti tersendiri. Cocoa berarti coklat, sesuai bahan lokal utama produk ini. Sedangkan Nul diambil dari Nusa Loran, sebuah gabungan kelompok tani (gapoktan) yang sudah eksis di Wolonwalu. Gapoktan inilah yang menginisiatifi proses kerja panjang hingga menghadirkan Cocoa Nul ke tengah masyarakat. Ada 14 kelompok tani yang tergabung dalam gapoktan ini.

Berita Terkait:


Produk Cocoa Nul berupa bubuk coklat yang bisa dimanfaatkan untuk pelbagai kebutuhan, seperti susu, es krim, puding, kue, dan beragam produk lainnya. Cocoa Nul dibungkus apik dalam kemasan yang menarik, dengan ukuran yang berbeda-beda, 250 gram, 100 gram, dan 50 gram. Cocoa Nul ini dipamerkan pada kegiatan bursa inovasi desa di halaman Sikka Convention Center (SCC), Kamis (11/10).
Produk ini luar biasa karena dikerjakan secara tradisionil. Biasanya setelah panen, para petani coklat kemudian memisahkan biji coklat dari dagingnya. Pada 1 buah coklat, kurang lebih terdapat 47 biji.
Setelah itu biji coklat dijemur. Dari hasil penjemuran, petani coklat sudah bisa menduga mana biji yang berfungsi untuk diproses lanjut, dan mana yang tidak berfungsi. Rata-rata 1 buah coklat menghasilkan 20-an biji coklat yang berkualitas baik.
Biji-biji yang berkualitas baik, kemudian akan digoreng. Setelah biji-biji itu matang, dilanjutkan dengan menumbuk secara tradisionil. Hasil tumbukan itu yang kemudian menjadi bubuk coklat yang dikenal dengan Cocoa Nul.
Seluruh proses pengerjaan bisa memakan waktu kira-kira 2-3 minggu. Setiap proses harus dilakukan dengan baik dan tertib. Misalnya penjemuran biji-biji, tidak dilakukan di sembarang tempat, tetapi harus pada tempat-tempat khusus. Inilah yang menjadi keunggulan Cocoa Nul, sebuah proses tradisionil yang sulit diintervensi oleh kecanggihan dunia lain.
Minsia, yang berasal dari Dusun Kopor Desa Wolonwalu mengaku bangga bisa bergabung bersama Nusa Loran. Gapoktan ini sudah berdiri sejak tahun 2003, dan kini memiliki 223 anggota dari 14 kelompok tani. Semua anggota terlibat aktif ikut ambil bagian dalam proses pengerjaan bubuk coklat asli dari Wolonwalu. Mereka pun ikut mengembangkan dan memperluas jaringan pemasaran Cocoa Nul.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini